Biografi H. Harun Rasyidi

on Sabtu, 17 Agustus 2013

BIOGRAFI

H HARUN RASIYDI AMBARAWA

(dituliskan versi bebas untuk ditambahi oleh adik-adik
dan rekan-rekan Bapak serta keluarga lainnya)


I. LATAR BELAKANG KELUARGA

HARUN PERMATA DARI MLOBO
Harun kecil dilahirkan sebagai putra pertama di Desa Kupang Dalangan Kecamatan Ambarawa tanggal 8 Juli 1938, oleh pasangan  Umar Khotib dan Asmanah. Rumah kelahiran Ambarawa merupakan rumah KH Badaruddin, kakek Harun dari Ibunya yang merupakan rumah tinggal berlantai 2 dimana lantai atas dipergunakan untuk pengajian dan menempa ilmu dan kekuatan para muridnya.

Kyai Umar Khotib adalah ulama Mlobo sebuah desa kecil di Kecamatan Secang di kaki pegunungan Temanggung dan menikah dengan Asmanah putri ke4 dari KH Badaruddin Ambarawa.
KH. Badaruddin tokoh ulama ambarawa semasa peperangan banyak membantu pejuang dengan do’a dan ilmu kanuragan sesuai dengan masanya adalah putra Mbah Soca, tokoh yang mengenalkan agama Islam di Ambarawa dan sekitarnya jauh sebelum masa kemerdekaan. (informasi dari tokoh sepuh Sumowono saat Harun remaja tahun 1960 an dakwah di sumowono dan ketemu seorang tua yang mengenali Harun sebagai cicit dari Mbah Soca). Semasa kecil Harun diasuh di Ambarawa sampai usia sekitar 1 tahun dan kemudian pindah ke Mlobo.

MASA PENDIDIKAN
Pendidikan dasar
Harun sekolah SD Negeri Mbumen (desa kebumen) kec. Secang 6 kilo dari Mlobo. Tiap hari naik turun bukit bersama beberapa teman menempuh pendidikan dasar dengan semangat. Sampai suatu ketika terjadi kebakaran di SD tersebut dan akhirnya Harun pindah sekolah yang terkemuka saat itu di SD Negeri Panjang Ambarawa (dekat Monumen Palagan Ambarawa).  
Tingal di Rumah KH Badaruddin dengan lingkungan agamis dan suasana perjuangan pertempuran Palagan Ambarawa dan sangat disayang olehya dididik karakter dan agamanya langsung oleh KH Badaruddin. Melihat beliau  sehari hari membantu masyarakat dan pejuang Ambarawa dan mengajarkan agama pada banyak orang  sangat mempengaruhi kehidupan Harun dikemudian hari. Meskipun terpisah dari ayah ibunya, Haruni sangat dikasihi olehnya  menjadikan Harun pribadi yang kuat dan mandiri.
Kondisi dan suasana Ambarawa, yang dinamis dari masa perjuangan sampai masa setelahnya, pengembangan kepribadian dan langkah langkah kejuangannya banyak lahir dari semangat KH Badaruddin. Sekolah di SD Negeri dan mengaji dibimbing sang kakek langsung hingga kini masih menghujam dengan kalimat “Amalan yang baik adalah tiap hari membaca Al Qur’an akan menentramkan dan memuliakan dirimu”.

Pendidikan Menengah
Selepas lulus dari SDN  Panjang, Harun melanjutkan ke Salatiga, sekolah yang sangat terkenal dikalangan muslim saat itu, PGA Salatiga. (berada di jalan Osa Maliki berjarak sekitar  300 meter dari Masjd Agung Kauman Salatiga).
Disekolah tersebut Harun menyelesaikan selama 3 tahun, Pelajaran agama dari KH Badaruddin membantu lancarnya sekolah di PGA. Beberapa teman seperi Almarhum Musri ( Guru MTSN Salatiga tahun 1982) menyampaikan betapa cerdas dan bersahajanya Harun sewaktu di PGA.
Selama sekolah di Salatiga Harun tinggal Kos di daerah Kauman dan jika libur ke Ambarawa dan sesekali ke desa Mbener, Tengaran. Di Mbener Harun berada di  rumah Ibu Srimanah kakak dari Asmanah Ibundanya. Srimanah menikah degan KH Asyhuri yang merupakan putra KH Jalaluddin Suyuthi tokoh ulama Mbener.

Pendidikan Mengengah Lanjutan
Lulus dari PGA Salatiga, Harun berkeinginan melanjutkan ke IAIN, dan untuk meraih cita cita itu, Harun pindah ke Yogyakarta menempuh pendidikan di SPIAIN (sekolah Persiapan IAIN) Yogyakarta beralamatkan di Sekip sekitar kampus UGM Yogyakarta. Selama di yogya Harun tinggal bersama pamannya H Sofyan Badar di Jl. Taman sari No. 40 sekitar  2 km dari kraton Ngayogyokarto Hadiningrat. Pendalaman agama dilakukan dari sekolahan dan kyai setempat dan menjadi anggota organisasi IPPNU sehingga mengikuti beberapa pelatihan keorganisasian dan dakwah.
Sambil sekolah dan tinggal di rumah Pakde-nya, Harun mengajar ngaji prutra putri Pakde Sofyan, sesekali mengantar sekolah dengan memboncengkan sepeda “adik adiknya” itu

Pendidikan Tinggi
Pendidikan tinggi diperoleh di IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, karena keuletan dan kepandaiannhya Harun tidak kesulitan masuk ke IAIN, saat itu IAIN Yogyakarta menjadi paramater kemajuan pemikiran Islam Indonesia dengan adanya Tokoh sekaliber Prof TM Hasbi Ashidiqi dan Prof Musaddad.
Selain menjadi mahasiswa lalu membantu mengasuh adik adik taman sari, Harun banyak terlibat dalam Organisasi. Di IPPNU menjadi pengurus, dan di PMII menjadi penggerak dalam melawan rezim Nasakom dan PKI.
Gaya pidato Harun, yang indah dan menyentuh dengan intonasi yang khas merupakan hasil dari pelatihan dari tokoh tokoh PMII juga memiliki pengalamannya menggalang kekuatan melawan gerakan PKI. Keterlibatan Harun dalam organisasi sampai beresiko tinggi, dicari di Yogya dan Salatiga oleh musuh negara. Sampai saat kelahiran putranya yang pertama tanggal 4 Me 1966. Istrinya dibawa menaiki andong dari desa Bener ke Rumah Sakit DKT Salatiga tanpa didampingi suaminya.
Harun sangat terkesan dengan Yogyakarta dan  Masjid Suhada, yang dibangun tahun 1960 an, sering  juga menimba ilmu dan pengalaman di masjid tersebut.
Saat menjadi mahasiswa ini Harun rajin berda’wah dibanyak tempat, di desa  desa ataupun dimana pengajian KH Badaruddin mengajar Harun kadang diminta menjadi pengantinya. Kitab yang sering menjadi pegangannya adalah “Riyaadushalihein Karya Iman Nawawi Al Makki” dan Kitab “Tafsir Ibnu Katsir” dan tentu dalam dakwah disesuaikan dengan konteks masalahnya.

II. KIPRAH KEJUANGAN DAN PEKERJAANNYA

Masa kerja Pertama di Pengadilan Agama Kota Semarang
Lulus dari IAIN Yogyakarta tahun 1965, nama Harun yang dianggap terlalu pendek dan agar ada pembeda dengan yang lain mulai ditambahkan Rasyidi. Sebagai mahasiswa ikatan dinas Deprtemen Agama, dn lulusan IAIN fakultas syariah.. Harun mendapatkan tugas pertama di kantor Pengadilan Agama Semarang.
Lokasi kantor tersebut ada di samping Masjid Agung Kauman Semarang, tidak jauh dari pasar Johar. Pekerjaan sebagai hakim muda, dilaksanakan dengan tekun dan Harun tetap tinggal di Ambawa. Bersama Istriya yang Bernama Siti Anisun (sepupu Harun putri dari Ibu Srimanah) dan putra pertama M Ahsin Sidqi yang lahir 4 Mei 1966.
Masih terbayang jika riuh namun disertai ketegangan melakukan Hisab Rukyat saat menjelang Puasa dan lebaran, bagaimana Harun mempin tim Rukyatul Hilal dari menara Mercusuar Tanjung Emas setelah menyaksikan atau tidak bulan sabit lalu segera melaporkan ke Jakarta. Suasana Dug-Der diseputar kantor Masjid kauman sangat menarik dan ramai dikunjungi orang. Istri dan anak dibawa serta untuk melihat suasana khas menjelang lebaran di kota semarang itu.
Semasa Menjadi hakim di semarang ini Perjuangan Dakwah Harun terus berjalan dengan beberapa hasil seperti pendirian SPIAIN Ambarawa, Maderasah Diniyah Sabilul Huda Krangan dan Balai Islam Ambarawa.

Ke Kota Wali Demak sebagai Hakim PA Demak
Sekitar 3 tahun di Semarang dan meninggalkan kenangan sangat bermakna, Harun pindah sebagai hakim di Pengadilan Agama Demak. Lokasi kantor ada disamping Masjid Agung Demak, yang didirikan Para Wali bererapa abad silam menambah kesan bagi dirinya dan keluarga..
Harun tinggal kost dirumah penduduk pengusrus Masjid Agung Demak, berjarak satu kilo dari lokasi kantor. Selama bekerja sebagai hakim Harun masih melakukan aktivitas dakwah dan organisasi baik di Jawa Tengah maupun di Ambarawa.

Menjadi Ketua Pengadilan Agama Semarang

Kembali bekerja sebagai hakim di Semarang dan menjadi ketua Pengadilan agama Semarang tentu bertambah juga tanggung jawabnya. Untuk pertama kalinya Kantor pengadilan agama semarang menempati Kantor baru di Jl Ronggo Lawe, daerah Karang Ayu Semarang. Kembali dan memimpin bersama teman teman lamanya dapat mengembangan hubungan antar pegawai dalam kegiatan kantor sangat terasa. Sampai saat ini masih terekam dalam keluarga Harun, bahaigaman susana pekerjaan dan hubungan antar pegawai yang sangat kondufif.

Memiliki keluarga yang harmonis dan mendukung karir dan perjuangan ayahnya, tentu Harun sangat menyenangi pekerjaan ini. Bukan hanya memimpin sidang perceraian semata, Harun lebh senang membantu keluarga keluarga yang mengalami massalah dalam perkawinan dan terhindar dari perpecahan dan keluarga lainnya menjadi keseharian. Baik dikantor kadang dirumah.
Perjuangan dakwah Harun, selama di PA Semarang lebih intens lagi, menjadi Panitia MTQ nasional ke 15 di Semarang dan sukses luar biasa. Hampir seminggu sekali mengadakan rapat di Masjid Baitul Rahman simpang lima Semarang sampai menjadi salah satu ketua MUI Jateng, Ketua Masjis Dakwah Islamiyah (MDI) Jawa Tengah untuk memajukan ummat dan Agama Islam di jawa Tengah.
Menjadi khotib Iedul Fitri di simpang lima dihadapan Gubernur jawa Tengah yang sangat legendaris H Supardjo Rustam adalah salah satu kegiatan dakwah yang sangat dikenang kami sekeluarga. Kadang harus ke Wonosobo, Surakarta dan lainyaa untuk memberikan pengajian akbar secara tulus dilaksanakannya.
Karena kesalehan dan keaktifannya dalam berdakwah, masyarakat menyebutnya sebagai KH Kharun Rasyidi, dengan jadwal pengajian yang sangat padat, dan tetamu yang datang dan pergi, serta rapat rapat yayasan yang silih berganti adalah mernjadi kegiatan dan kemafhuman keluarga. Istrinya tercinta Siti Anisun senantiasa mendukung dan mendampinginya.

Pada masa ini Harun menunaikan Ibdadah Haji ke Makkah untuk pertama kalinya sebagai diniayai pemerintak utusan MDI, semua murid, sahabat dan keluarga mengantarkan dari Masjid Mujahidin Ambarawa. Masih terbayang Mbah Kyi Cholil sebagai sesepuh Ulama di Masjid Mujadidin ditandu karena sakit melepas kepergian Harun dengan penuh haru.

Semasa mejadi Ketua Pengadilan Agama Semaran H Harun Rasydi melakukan berbagai kegiatan penting, antara lain :
1.    Menjadi Ketua panitia pembangunan Masjid Mujahidin Ambarawa
2.    Mendirikan Yayasan Islamic Centre Sudirman Ambawawa
3.    Mendirikan UNDARIS Ungaran
4.    Membuat gerakan Pembangunan Masjid di daerah segi tiga Salatiga Ambarawa Magelang
5.    Membantu pembangunan beberapa Masjid Amal Bhakti Muslim Pancasila di kab Semarang
6.    Salah satu  Ketua MUI jateng
7.    Ketua MDI Jateng
8.    Ketua BP3 SMA Negeri Ambarawa.

Pengajian dan dakwah yang dikelola H Harun Rasyidi:
1.    Pengajian Rutin Rabu Malam di Balai Islam Ambarawa
2.    Kuliah subuh Ahad Pagi di Masjid Mujahidin Ambarawa
3.    Pengajian lapanan Ahad Legi Desa Mlobo Secang kab Magelang.
4.    Kuliah Subuh selama bulan Ramadhan di Masjid Mujahidin Ambarawa.
5.    Berbagai undangan baik di masyarakatm sekolahan atau institusi.

Menjadi Anggota DPR RI

Aktifitas kerja dan Dakwah H Harun di MUI bersama KH Sofwan yang dikenalnya sejak di PA Semarang semasa berkantor di masjid Agung Kauman Semarang, teruslah terjalin.  Kepada keluarga  Harun sering bercerita bagaimana KH Sofwan memeberikan banyak hal pengetahuan dan pengalaman perjuangan dan dakwah padanya.
Aktifitasnya juga di MDI (Majlis Dakwah Islamiyyah) bersama KH Sofwan dan GUPPI (gabungan Usaha Peningkatan Pendidikan Islam) juga sangat intens dengan bantuan beliau akhirnya berhasil mendirikan Yayasan Islamic Center Sudirman (bersama KH Mansur, KH Amin Hambali, Drs H Subiyono Aptk, H Amin Samsuri BA),
Dikarenakan orang yang sangat dihormatinya yaitu KH Sofwan wafat karena sakit dan  Harun diminta menggantikan sebagai Anggota antar waktu  DPR RI sebagai Fraksi Golongan Karya.
Karir di Peradilan Agama sementara berhenti, dan berganti menjadi karir Politik. Namun perhatian pada kejuangan Peradilan Agama, Pendidikan dan syiar agama Islam akan terus dilaksanakan dan  mewarnai sebagian besar kehidupannya.
Undang undang peradilan agama merupakan hasil perjuangan yang mengangkat harkat hukum Agama islam dalam sistem perundangan di Republik Indonesia.
Pada periode pemilihan berikutnya. Harun menjadi anggota DPR RI penuh, dengan daerah pemilihan Kabupaten Demak dan sekitarnya. Setiap kesempatan reses. Harun mengunjungi daerah dan melakukan kegiatan dakwah dan pembangunan di daerah asalnya.
Setiap hari Sabtu dan Minggu Harun pulang ke Ambarawa untuk mengunjungi keluarga dan melakukan rapat rapat yayasan dan menerima tamunya. Dan disempatkan mengunjungi Ibunya di Desa Mlobo serta mertuanya di Tlogo Salatiga untuk mengobati rindu dan mohon do’a mereka.

Pada masa di DPR  Harun ibadah haji 2 kali, dan beberapak kali umroh sekali berhaji sebagai peinjau dan tamu negara Arab Saudi sehingga menempati Hotel “istana” kerajaan Saudi Makkah yang jika sholat dikamar bisa melihat Ka’bah yang agung dibawahnya dan selanjutnya  bersama Istrinya dengan biaya yang dikumpulkannya.

Mejadi Hakim Tinggi Agama Yogyakarta

Tugas di DPR Ri telah selesai, dan kini dengan Undang Undang baru Peradilan Agama yang telah diperjuangkannya di DPR RI , peradilan agama dan hakim hakimnya telah setara dengan peradilan umum dan hakim umumnya dan serta bernaung dibawah Mahkamah Agung. Harun dipercaya  menjadi Wakil Ketua PTA Yogyakarta.
Sebagai Ketua PTA Yogtyakarta adalah Bapak H Drs Thoyyib tokoh bersahaja yang sejak lama  sangat dikagumi oleh Harun.
Ketika menjadi Hakim Tinggi Harun tinggal di yogyakarta bersama Istri dan 2 Anaknya yaitu Nining F Hanum (mhsw UGM Akuntasni) dan Hani  Lukman Hakim (Mhsw Ekonomi PT. Swasta).
Suasana yang amat sangat didamba, seperti menjadi anugrah terindah bagi klelauarga, bekerja di tempat bersejarah dimasa dulu sekolah lanjutan dan Mahasiswa. Lebih bisa sering mengunjungi Pakde Sofyan dan keluarga dan bertemu dengan saudara saudaranya.
Saat mejadi Hakim Tinggi  tak pernah meninggalkan lingukungan pejuangan di Ambarawa dan sekitarnya, mengarahkan yayasan, memakmurkan Masjid Mujahidin. Dan juga lebih mempersiapkan kader kader lebih muda di Ambarawa sudah bisa melanjutkan perjuangannya.

Hijhrah ke Medan dan menjadi ketua  PengadilanTinggi Agama Medan

Hanya 2 tahun di Yogya, H Harun dalam usia 63 tahun pindah ke PTA Medan menjadi Ketua. Disana bersama Istri Hj siti Anisun dengan senang mendampinginya. Putra putrinya dengan 5 orang cucu saat itu menganggap ini adalah anugrah Tuhan untuk seperti menjalani masa bulan madu yang kata H Harun pada putra putrinya belum pernah dilakukan karena menikah pada masa genting G30S PKI di mana H Harun menjadi aktifis PMII yang sedang dicari cari musuh negara.
Di Medan, sosok H Arso (wakil PTA Medan) sangat menyambutnya sebagai layaknya keluarga. Menjalankan tugas dan pekerjaan, perjuangan dan romantika kehidupan sepasang Merpati yang tidak muda lagi H Harun- Hj Siti Anisun, sungguh menjadi pengakhiran sebuah “Tugas pengabdian profesi pada negara yang membanggakan dan menyenangkan”.
Bertepatan usia 65 tahun, H. Harun, Purna Bhakti dari Pegawai Negeri, dan posisinya sebagai ketua hakim tinggi Agama sebuah salah satu prestasi puncak profesi seorang hakim. Seluruh putra putri hadir dan mendampingi di Medan. Berbagai acara perpisahan diadakan dan puncaknya adalah tangisan kehilangan dan kesan mendalam dari segenap keluarga PTA Medan pada H Harun.

Kambali ke Ambarawa
..............

III. KELUARGA DAN NASEHAT:

Putra Putri:
Dalam pernikahannya H Harun dan Hj Siti Anisun diberikan anugrah 6 putra putri:
1.    Muhammad Ahsin Sidqi     lahir di Salatiga 4 Mei 1966
2.    Atik Rochmiati
3.    Fuad Kamaludiin
4.    Zaki Mubarok
5.    Nining faizah hanum
6.    Hani Lukman Hakim

Petuah dan nasehat dari orang tua ke pada putra putri antara lain :
1.    Dimanapun tinggal dan bekerja hendaknya Madjid dimakmurkan
2.    Membaca Alqur,an sebagai Dzikir harian
3.    Menghormati orang tua dan teman teman atau tamunya
4.    Membantu dan memperhatikan saudara
5.    Mau berdakwah, berkhutbah
6.    Memperhatikan pendidikan anak anaknya, membantu saudara dan tetangga
7.    Menjaga akhlaqul karimah khususnya pada bapak dan Ibu
8.    Menjaga silaturahmi dengan para guru



Ditulis di Apartemen Kalibata City Tower K 16 AN
M. Ahsin Sidqi , Jakarta 18  Agustus 2013 jam 23.46

1 komentar:

Keluarga Harun mengatakan...

Ayo
saudara saudara
handai taulan
yang punya kesan pada Ambarawa dan tokoh tokohnya dapat di Postingkan

Posting Komentar