JALAN AMALIAH DAN JEJAK
DAKWAH
KELENGKAPAN BIOGRAFI KH HARUN RASYIDI -2
Catatan Muhammad Ahsin Sidqi (putra Pertama )
ABSTRAK
Ayahandaku KH Harun Rasyidi : Sebagaimana pria Jawa;
sebagai anak tertua dari 6 saudara,
kepala rumah tangga dari 1 Isrti dan 6 Putra, bekerja sebagai pegawai
negeri menjadi abdi bangsa menjalani kehidupan sehari hari dengan sederhana dan
menjalin silaturrahmi dengan sudara dan berinteraksi dengan lingkungan sosialny
sesuai dinamikanya.
Keterpanggilan jiwa dan pengaruh dari orang dan daerah disekitarnya serta sikap krits terhadap
situasi yang berkembang saat itu, menjadikan adanya berbagai sisi dalam
menjalani kehidupannya yang patut untuk diambil pelajaran dan hikmahnya. Semoga
karya dan amalnya menjadi kebaikan untuk beliau dan manfaat berkepanjangan bagi
masyarakat dan bangsa ini.
AMBARAWA KOTA PERJUANGAN DAN PRULARISME MASYARAKATNYA
Ambarawa
tidak mungkin dilepaskan dari peta perjuangan Indonesia untuk mencapai dan
mempertahankan kemerdekaanya. Kota kecil di kaki pebunungan Ungaran, telomoyo
dan merbabu ini telah menjadi peta penting sejak Belanda menjajah Indonesia.
Situs
tentang ini bisa dilihat di Musium Palagan, Musium Kerera Api Ambarawa, Benteng
Willem, dan bengunan2 Gereja serta lainnya yang masih terpeilhara sampai
sekrang.
Tempat
Pendidikan di Ambarawa, oeleh penjajahan Belanda memang banyak dibangun,
dilengkapi dengan rumah ibadah (gereja) sehingga bisa dikatakan sudah cukup
maju dunia pendidikan umum hanya
bernuansa agama yang dibawa dari eropa.
Sementara
sebelum penjajahan penduduk Ambarawa beragama Hindu, lalu Islam, dan orang
Tiong Hoa membangun Klenteng besar di atas Kali (sungai Panjang) bersama
masuknya belanda Agama Kristen dan katolik juga tidak sedikit pengikutnya.
Pergolakan
dan perubahan kekuasaan yang terjadi dan pergeseran budaya yang menyertainya tetap menjadikan Ambarawa
kondusif, masyarakatnya rukun dan bekerjasama meskipun memiliki keyakinan dan
latar belakang yang berbeda
LINGKUNGAN YANG MENUMBUHKAN KEPEDULIAN
Ambarawa, Basis Pertahanan Belanda dan Perkembangan
Berbagai Agama.
Dari
tahun 1940 an Belanda telah membuat sarana pendidikan di Ambarawa tentu degan
muatan dan nama sesuai dengan nilia Kristiani, dan Putra putri Muslim
dipersilahkan juga untuk sekolah
dilembaga tersebut. Didasari keterbatasan sekolah negeri atau swasta lainya,
maka sebagian besar siswa sekolah Nasrani tersebut juga beragama Islam.
Bapak
(H.Harun) dan keluarga (KH Badaruddin) meyakini bahwa pendidikan adalah sarana
yang terpenting untuk meruban nasib sesorang dan sampai mempengaruhi sampai
pada marwah bangsa. Maka Harun yg
tertanam nilai spiritual dari awalnya, setamat SD tidak ada pilihan kecuali
“Hijrah” di Salatiga menempuh pendidikan lanjut yang terfavorit pada masanya
(PGA Salatiga).
Pergaulan
dengan para siswa yang dari berbagai wilayah dan latar belakang serta dari guru
guru yang membimbingnya, maka cita cita
Bapak terus membara, ingin meraih puncak pengetahuan yang dapat menemukan
khikmah dari kehidupan yang hendak dijalainya.
Munculnya Semangat Mamajukan Pendidikan dan Mayarakat
Muslim
Meneruskan
pendidikan di Yogya, terus memperluas lingukngan pergaulan formal di sekolah
dan non formal di keluaga tempat tinggalnya dan organisasi yang diikutinya
serta masyarakat yang mejalani interaksi sehari hari, telah menjadi bekal yang
baik untuk menyusun mozaik kehidupan mendatang yang bermanfaat untuk orang lain
dan generasi setelahnya sepanjang masa.
Sampai
1980 an, Disana sini masih terlihat di Ambarawa dan sekitarnya, betapa akses
pendidikan sangat sulit, jikapun ada pilihannya tidak sesuai dengan keyakinan
masyarakat mayoritas, kalau keluar kota harus dengan biaya cukup besar yang
bagi masyarakat umum di kota kecil ini tentu berat.
EMPATI YANG MEMBUAHKAN AKSI NYATA
Menjadi Guru Tanpa Sekolah
Dari
kondisi seperti diatas, suasana rumahnya di Ambarawa yang tidak pernah sepi
dari orang datang khususnya belajar agama pada KH Badaruddin, maka Harun remaja
sudah biasa tampil memberikan pengajian ke berbagai kalanga. Bisa luwes
berbicara di depan kalangan remaja, Muda dan orang tua mungkin karena pengaruh
dari kakeknya. Juga mengajar membaca Al Qur’an bagi adik adik dan masyarakat
sekitarnya, telah melatih diri untuk sabar dan tekun melayani kebutuhan agama
yang tidak terlayani saat itu.
Penjaian
Bapak selalu menarikm bagi orang yang baru mengikuti pertama kali, karena
Suaranya yang khas, gaya bicara dan gestur tubuh yang sangat menarik dan
dinamis.
Bagi
orang yang telah sering mengikutinya tidak pernah menjemukan, karena Bapak
terus belajar dan mengangkat isu yang terkini dan menyentuh hati pendengarnya
dengan kemampuan empati yang baik.
Materi
khutbah dan ceamahnya meskipun singkat komprsenshif dan menyentuk aspek
subtantif dalam melihat permasalahan dan solusi Ilahiyah serta kebangsaan yang
diberikan (bisa dilihat pada transkrip KhutbahIdul Fitri di Masjdi Mujahiddin
Ambawa dan panduan buku khutbah pembangunan yang telah dissusun dengan bebagai
tokoh Nasional).
“Sebagai penyampai yang baik, kadang ketika ceramah (di
depan siswa dan guru SMA Swasta Salatiga th 1984), bapak memberikan contoh
kongkrit dirinya yang sedang memiimpin anaknya yang seusia dengan pendengarnya”.
Dan
Beberapa tahun kemudian apa yang dikatakan menjadi kenyataan, anak pertamanya dengan
basis sekolah Agama, bisa mempunya prestasi yang baik di sekolah Umum dan kelak
diterima di Fakultas Teknik Nuklir tanpa meninggalkan kesalehannya.
Bapak
meninggalkan jejak perjuangannya pada banyak kegiatan dakwah sebagai berikut:
1. MELANJUTKAN
PENGAJIAN KELUARGA:
a. Ahad
Legi di Mlobo : Melanjutkan
pengajian ayahnda H Umar Khotib
b. abtu
Pagi Ambarawa : Melanjutkan KH Badaruddin Riyaadus shalihien
2. RINTISAN
PENGAJIAN :
a. Kuliah
Subuh Masjid : Masjid
Mujadiddin Tiap Jum’at Subuh
b. Kuliah
Subuh Ramadhan : Masjid Mujahiddin
Ambarawa
Tangan Berjabat Karya Terbuat
Tiada
cukup perjuangan tanpa meniatkan keberlanjutan. Karya akan sirna bersama dengan
terpisahnya jiwa dari raga. Amanlan ini baik bersaaman dengan kehidupannya,
tetapi kurang kekal subangan pahala dan kebaikan setelah usai kehidupan
dunianya.
Pertemuan
dengan beberapa teman, tokoh dan dari hasil keprihatinan atas situasi yang
terjadi terhadap minimnya sarana pendidikan dan dakwah, maka Bapak bisa
meninggalkan jejak perjuangannya pada banyak kegiatan dan bangunan sebagai
berikut:
1. KEAGAMAAN
:
c. Balai
Isalam Ambarawa : Bersama Bpk
Rajiman, H Thoyyib Hassan, H Ilzam.
d. Renovasi
Masjid Mujahidin : Bersama Bpk Wedana
Ambarawa dan 3 kali renovasi
e. Masjid
Jalan Utama 3 kota : Bersama KH
Mansyur puluhan Masjid jalan Kota mgelang-Salatiga-Ambarawa
f. Masjid
Amal Bhakti : Bersama
Akpol Banyubiru, Kavaleri 408 dan Terminal Ambarawa
g. Musholla
Alkhimah : Kupang
Dalangan sengan Kayu Glugu dari Mlobo
2. BANGUNAN
LAIN :
a. Rumah
sakit Ambarawa : Perjuangan di DPR RI
menaikkan status kelas
3. SEKOLAHAN
/ UNIVERSITAS::
a. MI
Kranggan : Bersama
Bpk Rajiman
b. MI
Sabilul Huda : Bersama
Bpk Ustad Badrun, H Subiyono Apt
c. SMP
Ilsam Ambarawa : Bersama H Amin
Hambali
d. SPIAIN
Ambarawa : Bersama H Amin
Hambali
e. SPG
Islam Sudirman : Bersama H Amin
Hambali, G Subiyono Apt
f. SMP-
SMA Sudirman : Bersama Pengurus
Yayasan Islamic Centre
g. IKIP
Veteran Cabang : Menjadi embrio
berdirinya FKIP Undaris
h. UNDARIS :Bersama Pengurus
yayasan & Darul Ulum Jombang
i. SMAN
Ambarawa : Lokal kelak
bersama pengurus BP3 th 1982
4. YAYASAN
/ Organisasi:
a. Yayasan
Islamic Centre Sudriman Ambarawa
b. Yayasasan
pendidikan Islam SD Islam / MI Kranggan
c. BP3
SMA Negeri Ambarawa
d. GUPPI
(Gabungan usaha Pembaharuan Pendidikan Islam )
e. MDI
(Majlis dakwah Islam) Ketua MDI Jateng
f. Yayasan
Al-Azhar Salatiga
g. MUI
Jawa Tengah
h. IKAHA
Jawa Tengah
i. DPR
RI
Ditulis M Ahisn Sidqi
Pasuruan, 22
Agustus 2012
0 komentar:
Posting Komentar