Jejak Dakwah
dan Perjuangan KH. Harun
Rasyidi
Pandangan Bapak tentang Mbah
Seco dan KH. Badaruddin
Perihal mbah Seco, bapak tidak banyak
menceriterakan. Bapak hanya bercerita tentang beliau beberapa hal yang ia
ketahui, yakni bahwa Mbah Seco adalah seorang kyai tarekat. Ia memang tidak
memiliki pesantren yang menetap, tetapi memiliki banyak murid. Bagaimana beliau
berdakwah hingga memiliki banyak pengikut? Menurut Bapak model dakwah Mbah Seco
adalah dengan melakukan tirakat keliling ke gunung-gunung untuk mengajarkan
dakwah Islam. Yang beberapakali bapak sebutkan antara lain di daerah sumowono
atas. Jadi Mbah Seco berangkat sendirian dari rumah kemudian selama beberapa
hari melakukan tirakat perjalanan dakwah, singgah dari satu dusun ke dusun yang
lain, waktu pulang kembali ke rumah Ambarawa sudah ada puluhan orang yang
mengikuti beliau sebagai muridnya. Seperti lazimnya kyai zaman dulu, selain
ahli agama, mbah Seco juga seorang tabib. Keahliannya sebagai tabib inilah yang
mungkin merupakan salah satu keunggulan yang dimiliki beliau dan memudahkan
beliau untuk mendekati masyarakat pedesaan bagi kepentingan dakwah.
Masih soal jejak Mbah Seco, suatu ketika di awal
atau pertengahan 1990-an bapak bercerita bahwa dulu waktu masih muda pernah
diminta mengisi pengajian di sebuah desa daerah sumowono atas. Banyak penduduk
desa yang menghadiri pengajian Bapak, dari anak-anak, ibu-ibu, bapak-bapak
hingga mereka yang sudah sepuh atau lanjut usia. Bapak bercerita bahwa para
hadirin merasa kagum dengan pengajian bapak. Bisa dibayangkan pada waktu itu
figure seperti bapak, sosok pemuda tampan, terpelajar dan pandai soal agama,
masih sangat langka. Tapi yang penting disini adalah beberapa saat setelah usai
pengajian beberapa sesepuh yang hadir menemui Bapak. Mungkin karena menyaksikan
cara ceramah bapak, bagaimana gerak-gerik dan pembicaraanya atau karena
penampilan fisik bapak, hingga mereka ingin tahu lebih banyak soal bapak.
Sepertinya apa yang dilihat pada diri bapak mengingatkan para sesepuh itu
kepada sosok penting pendakwah yang zaman dulu kala mengislamkan mereka. Para
sesepuh ini menyatakan bahwa mereka dulu pada masa muda atau remajanya adalah
santri-santri dari Mbah Seco. Menurut bapak, para sesepuh ini meresa gembira
dan sekaligus terharu setelah mengetahui bahwa Bapak ternyata merupakan cucu
dari Mbah Seco guru mereka dahulu. Cerita bapak ini membuktikan bahwa sosok
mbah Seco sebagai pendakwah dan sekaligus berperan penting dalam mengislamkan
masyarakat bukan merupakan rekaan belaka tetapi kisah yang nyata. Sayangnya
masih sedikit sekali kisah Mbah Seco yang bias diungkapkan. Belum ada info yang
jelas soal asal usul Mbah Seco, serta kapan beliau pertamakalinya berada di Ambarawa.
Tentang Kiai Badaruddin sendiri masih banyak
informasi yang dapat digali. Beliau dikenal luas sebagai kiai dan sekaligus
tabib. Semasa perang kemerdekaan, kiai Badaruddin berperan penting dalam
mensupport para pejuang dengan kekuatan spiritualnya. Dikisahkan bahwa beliau
juga memiliki kedalaman dalam ilmu kanuragan atau kesaktian. Ratusan pemuda
pejuang sengaja datang ke rumah Ambarawa untuk di doakan oleh mbah Kiai.
Bersyaf-syaf para mujahid ini mengantre untuk mendapatkan penguatan spiritual
Mbah Kiai Badaruddin yang diyakininya, berkat kekuatan tirakatnya kepada Yang
Maha Kuasa, mampu memberikan kekebalan. Kedekatan mbah Kiai dengan pejuang ini
rupanya terendus oleh penjajah ketika itu. Kedudukan beliau sebagai penguat
spiritual para pejuang ini dianggap membahayakan. Oleh penjajah saat itu pada
pertengahan 1940-an, kemungkinan oleh pihak tentara Inggris atau sekutu, mbah
Kiai Badaruddin beberapa kali diinterogasi bahkan konon sempat dipenjara. Darah
jihad dan kejuangan, Alhamdulillah selalu hidup dalam keluarga besar mbah Kiai
Badaruddin hingga anak cucunya.
Putri mbah Kiai Badaruddin, mbah Asmanah atau yang
oleh cucu-cucunya dikenal sebagai Mbah Bener, juga menikah dengan seorang kiai
pejuang. yakni mbah KH. Ashuri (atau Ashary?) -putra KH. Jalal Suyuthi- yang melegenda itu.
Mbah Kiai Ashuri tercatat dalam beberapa buku sejarah perjuangan di Salatiga
dan sekitarnya. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Lakpesdam NU akhir
1990-an, nama KH. Ashuri muncul sebagai seorang kiai pejuang yang bersama-sama
pasukan Sabilillah menggelorakan pertempuran melawan sekutu di daerah Salatiga,
Bringin dan Ambarawa. Tidak hanya
memberikan dukungan moral, tetapi beliau turun langsung di tengah para pejuang
muslim berjihad mengusir penjajah.
Perjalanan Pendidikan Bapak
Bapak menceriterakan bahwa masa remajanya hidup
dengan penuh keprihatinan. Meski bukan dari keluarga miskin, tetapi juga tidak
berlebih. Kondisi ekonomi keluarga tentunya berpengaruh penting dalam menunjang
keberhasilan seseorang termasuk dalam aspek pendidikan. Beberapa kali
kesempatan bapak menceriterakan bahwa tentang kehidupan yang penuh keprihatinan
ini, tetapi sama sekali tidak dengan nada mengeluh. Yang saya tangkap justru
ingin memberikan pesan kepada anak-anaknya bahwa meski dalam kesulitan, ikhtiar
dan doa harus terus dilakukan. Bapak melewati masa remajanya dengan kehidupan yang
keras. Bapak sendiri, dan termasuk Lek Hari, menceriterakan bahwa puasa sunnah
senin dan kamis selalu bapak jalani pada masa remajanya dulu di Mlobo. Lek Hari
bahkan bilang, bapak itu jago puasa. Saya kira, Bapak meyakini bahwa puasa ini
bagian dari ikhtiar yang harus dilalui demi mencapai kehidupan yang mulia
nantinya. Alhamdulilah, perjalanan sejarah membuktikan bahwa apa yang bapak
yakini ternyata terwujud.
Bapak sendiri menempuh pendidikan formal, sekolah
rakyat atau SR, di Panjang. Terdapat foto bersejarah bapak dengan teman-teman
sekolahnya masa SR dulu. Masa sekolahnya di Panjang menunjukkan bahwa bapak
pada masa kanak-kanannya tinggal di Ambarawa setidaknya mungkin sampai selesai
atau lulus SR. Pendidikan selepas dari SR saya kurang begitu jelas, bapak tidak
bercerita banyak. Tetapi sebagaimana lazimnya tradisi keluarga santri, bapak
sepertinya langsung dikirimkan ke pondok pesantren untuk menempuh pendidikan
agama non formal. Bapak sekali dua kali pernah menyatakan beliau pernah mondok
di Pesantren Jamsaren Solo. Sebuah pesantren Solo yang dahulu kala harum
namanya dan melahirkan banyak kiai. Saya denger pesantren ini, dari Nasif
Ubadah, kini telah berubah menjadi lembaga pendidikan al Islam karena setelah
sekian lama mengalami krisis dan kevakuman. Sepertinya di pondok ini bapak
tidak begitu lama, mungkin setahun atau dua tahun. Tetapi tidak ada cukup info
setelah itu kemana, mungkin saja mondok di Bener Salatiga.
Perjalanan bapak selanjutnya saya kurang jelas,
mengambil PGA atau apa di Yogya. Informasi yang sampai kepada saya selanjutnya
bapak sudah kuliah di IAIN Yogyakarta. Bapak kuliah di fakultas syariah.
Seperti telah disampaikan sebelumnya di IAIN Yogya bapak tidak hanya menjadi
model mahasiswa kuliahan biasa yang hanya bertekun untuk menggondol gelar,
tetapi kondisi Indonesia saat itu tahun 1960-an dimana “politik menjadi
panglima” serta suasana yang terua bergolak, sepertinya telah memikat dan
memanggil Bapak untuk terjun menjadi aktifis. Dari latar belakang keluarga dan
tradisi NU, tidak mengherankan kemudian bapak memiliki berkiprah di IPPNU dan
PMII, dua organisasi pemuda dan kemahasiswaan yang ketika itu memang merupakan
onder bouw Nahdlatul Ulama.
Bapak menceriterakan bahwa dalam kehidupannya yang
serba pas-pasan, beliau di Yogyakarta bertinggal di rumah Pak De Sofyan. Saya
tidak begitu jelas sejak kapan dan berapa lama tinggal di rumah Pak De. Masa
awal di Yogya terasa berat dan penuh ujian bagi Bapak. Dengan bertumpu kepada
kiriman ala kadarnya di orang tua setiap beberapa bulannya, bapak harus
memenuhi segala kebutuhannya sebagai pelajar dan mahasiswa yang pasti lebih
mahal dibandingkan di desa. Bapak bercerita, dalam kondisi yang penuh keprihatinan,
makan hanya sehari dua kali dan itupun apa adanya. Yang pasti, puasa senin
kamis terus tidak terputus.
Ada satu cerita menarik menyangkut karier
pendidikan Bapak. Sebagai seorang mahasiswa, termasuk Bapak, tentunya capaian
keberhasilan terpeting adalah saat dinyatakan lulus kuliah. Apalagi pada akhir
1960-an dimana orang terpelajar masih langka, berhasil menjadi sarjana
merupakan karunia yang luar biasa. Begitupun bagi bapak yang melampauinya
dengan susah payah berkat dari doa dan dukungan orangtuanya yang ada di desa
Mlobo. Bapak cerita pada moment yang paling membahagiakan itu, saat dinyatakan
lulus dan berhak menggunakan gelar doktorandus, yang pertamakali Bapak jumpai untuk
diberitahuakan kabar kelulusannya adalah mbah Kiai Benar, bapaknya Ibu kita.
Bapak bilang, sengaja pertemakali menjumpai dan mengabarkan ke mbah Kiai Bener,
bukan mbah kiai Mlobo yang merupakan bapaknya sendiri, sebab Mbak Kiai Bener
adalah sosok ulama, guru bapak, yang mengerti dan memiliki perhatian penuh
tentang pendidikan. Termasuk karier pendidikan bapak. Bukan berarti kurang
menghargai orang tuanya sendiri, karena bapak mengatakan mbah Kiai Mlobo
merupakan sosok yang agak lugu dan memang masih tradisionil. Bapak juga bilang
ketika menghadapi persoalan-persoalan terkait dengan pendidikan bapak atau
keilmuwan, yang pertamakali beliau sowani untuk berkonsultasi adalah Mbah Kiai
Bener. Sepertinya sebelum bapak dan ibu menikah, telah terjalin hubungan yang
sangat akrab dan kedekatan, baik secara intelektual maupun emosional antara
Mbah Kiai Benar dengan bapak.
Bapak
Sebagai Aktifis
Bapak menceriterakan bahwa pada kira-kira
pertengahan 1960-an pernah dikejar oleh kelompok yang berafiliasi dengan
gerakan komunis, Bapak menyebutnya PKI saja. Peristiwa itu terjadi setelah
Bapak selesai memberikan ceramah atau pengajian di Gedung Bioskop Garuda
Ambarawa. Ada satu atau dua truk yang mengejar dan mencari Bapak ke Salatiga,
tetapi beruntung bahwa ketika mereka nyampai Salatiga, Bapak sudah meninggalkan
Salatiga menuju Yogya melewati Solo. Menurut dugaan Bapak, kelompok yang
mencari Bapak ini bertujuan menangkap dan mungkin juga menghabisi nyawa Bapak.
Seperti diketahui bahwa pada pertengahan 1960-an Bapak menduduki posisi yang
penting dalam gerakan pemuda Islam yang melancarkan perlawanan terhadap
komunisme. Di Yogyakarta Bapak menjabat sebagai Ketua Ikatan Putra Putri Nahdlatul
Ulama (IPPNU) CabangYogyakarta. Selain di IPPNU, Bapak juga menjabat sebagai
sekretaris umum Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Yogyakarta, pada
saat itu Ketua Cabangnya Bapak Saiful Mujab, pada tahun 1980-an hingga 1990-an,
beliau dikenal sebagai tokoh NU dengan sebutan “pengusaha sarungan”.
Suatu ketika Bapak juga pernah menceriterakan
peristiwa pergolakan politik pertengahan 1960-an di Yogyakarta. Ntah dalam
peristiwa apa, pada saat itu Bapak masih sebagai pimpinan aktifis gerakan
mahasiswa PMII, terjadi clash antara tentara menghadapi mahasiswa. Tentara yang
dengan membawa senjata lengkap dan kendaraan tempur menyerbu aksi demo
mahasiswa dan melakukan penangkapan-penangkapan. Dengan bangga Bapak mengatakan
berhasil menyelinap dan meloloskan diri
dari penangkapan oleh tentara, padahal banyak dari sahahabtnya sesame aktifis
yang tertangkap.
Perjuangan Bapak dalam dakwah dan politik pada
masa itu di Ambarawa juga diperlihatkan dengan inisiatifnya mendirikan IPPNU
Ambarawa. Kalau tidak keliru Bapak menjadi Ketuanya. Foto dokumentasi pendirian
IPPNU Cabang Ambarawa hingga sekarang masih ada. Bapak duduk di posisi tengah
diapit oleh beberapa pengurus lainnya. Salah satu pengurus IPPNU yang saya
kenal adalah Pak Lik Kasani Kupang
Sewan. Saya kira beliau bias bercerita banyak soal kiprah Bapak terkait
dengan pembentukan IPPNU dan kegiatan dakwahnya pada masa-masa kritis tersebut.
Dari cerita dan dokumentasi yang ada, Bapak
melanjutkan kiprahnya sebagai pimpinan IPPNU pada level nasional. Tapi saya
tidak tahu jabatan structural di IPPNU Pusat sebagai apa, tetapi sepertinya
sangat strategis. Tentang hal ini ada cerita: waktu saya masih mahasiswa di
Unair pertengahan 1990-an, saya suatu ketika pernah menyebut kepada Bapak saat
obrolan biasa di rumah Ambarawa, tentang
Ketua PPP Jawa Timur yakni KH. Syumli Sadeli kepada Bapak. Bapak
menimpali, Pak Syumli itu temen Bapak. Saya nanya ke Bapak teman apa? Kan
partainya beda, Bapak di Golkar, Pak Syumli di PPP. Bapak kemudian bilang bahwa
pad,a pertengahan 1960-an. Mungkin beberapa saat setelah pemberontakan PKI,
Bapak pernah menjadi memimpin apel akbar IPPNU se- Jawa Timur di Surabaya. Pada
waktu itu Bapak ditunjuk oleh IPPNU Pusat untuk menjadi komandan upacara. Nah,
Pak Syumli saat itu sebagai Ketua IPPNU Jawa Timur. Beberapa politisi ulung an
Ketua PPP Jatim sebelumnya, KH. Sulaiman Fadeli, juga dikenal baik oleh Bapak
karena sesame aktifis IPPNU. Suatu ketika saya bertemu KH. Syumli sadeli, Ketua
PPP Jatim saat itu, saya sampaikan salam Bapak ke beliau. Beliau tampak
terkejut, dan sambil sedikit tertawa bilang. “putranya Pak Harun Semarang ya?
Salam balik dari saya. Pak Harun sahabat saya di IPPNU dan sampai dengan saat
ini di politik, meskipun saya di PPP”. Sedikit cerita ini memperlihatkan bahwa
Bapak bukanlah seorang pendakwah biasa, yang hanya memberikan ceramah.
pengajian. Tetapi Bapak juga berjuang melalui jalur aktifis. Kiprah di IPPNU
memperlihatkan bahwa Bapak menampaki karier yang penting di IPPNU, selain dari
cerita Bapak sendiri maupun bukti persahantannya dengan para tokoh mantan
aktifis IPPNU yang ada di berbegai daerah. Dokumentasi foto juga dengan jelas
menceritarakan kehadiran Bapak dalam konggres-konggres IPPNU nasional. Kalau
diperhatikan cermat, Bapak menghadiri tidak sebagai anggota atau utusan biasa,
tetapi sebagai panitia atau pengurus yang menduduki jabatan penting.
Pada awal tahun 2000-an, ada seorang aktifis IPNU
Pusat, saya lupa namanya kalau tidak salah Arvin atau Alfin beberapa kali
berusaha menemui Bapak untuk menulis sejarah perjuangan IPPNU dimana peran
Bapak pernah tercover dalam salah satu tabloid mingguan Citra. Kalau tidak
salah yang nulis Pak Kaswanto. Pengurus IPNU tadi akhirnya berjumpa Bapak,
tetapi karena kondisi Bapak yang sdg recovery dari sakit Bapak bilang sudah agak
terlupa sejarah saat itu dan penulis tadi diminta ketemu saya. Sayang setelah
kontak beberapa kali, tidak sempat dilanjuti.
Kecintaan Kepada Ilmu
Bapak merupakan pribadi yang mencintai ilmu
pengetahuan dan memiliki hasrat yang kuat dalam mengikuti berita-berita actual,
baik nasional maupun internasional. Ini mungkin yang memebedakan bapak dengan
kiai pesantren pada umumnya. Ratusan kitab, kebanyakan kitba fiqih. yang
berderat dalam lemari rak buku menjadi saksi nyata bagaimana bapak tidak hanya
puas dengan pemahaman dasar tentang fikih Islam. Tentunya, pemahaman yang
mendalam tentang fikih atau hokum Islam ini memang sangat penting artinya Bapak
sebagai pendakwah, yang setiap harinya harus bergelut dengan soal-soal social
keagamaan masyarakat dan bapak sebagai hakim pengadilan agama semarang.
Menelusuri kebelakang, kuatnya tradisi keilmuan
Bapak yang berkembang sejak muda sepertinya tidak dapat dilepaskan dengan
spirit bapak sebagai seorang pendidik. Selepas dari lulus kuliahnya di
Yogyakarta, selain turut merintis berdirinya SPIAIN di Ambarawa di tahun awal
1970-an yang kemudian berkembang menjadi IAIN Salatiga, bapak juga menjadi
seorang pengakar disitu. Suatu saat di awal 1990-an, Pak Muslich guru agama di
SMA Ambarawa, pernah menceritakan bagaimana beliau terkesan dengan cara
mengajar Bapak. Sepertinya, Pak Muslich sempat menjadi siswa bapak ketika itu.
Segi lain yang mengesankan adalah bahwa apabila kita lihat judul buku-buku yang
dikoleksi Bapak, selain kita—kitan fikih, terdapat beberapa judul yang aneh
untuk ukuran seorang ulama pendakwah biasa. Bapak ternyata juga mengkoleksi
buku karya tokoh dan pemikir besar seperti Ir. Soekarno, Philip L. Stodard,
hingga Lenin. Buku Soekarno “Di Bawah Bendera Revolusi” Stodard, “Pasang Naik
Kulit Berwarna”, dan “Lenin Writings” tersimpan rapi di lemari buku Bapak
bersama banyak lain buku social dan keagamaan.
Bapak juga berulangkali kepada putra-putrinya
mengajarkan pentingnya peduli dengan masalah-masalah actual bangsa dan umat.
Untuk menjadi pejuang, pesan yang selalu digaris bawahi bapak, penting untuk
memiliki wawasan yang luas. Tidak hanya mengerti hal agama dan peribadatan
saja, tetapi mesti lebih. Tidah hanya menganjurkan, tetapi bapak juga telah
membuktikan. Sejak penulis berada di sekolah dasar, awal hingga pertengahan
1980-an, setiap sore secara rutin melihat surat kabar Kompas sudah berada
diruang tamu. Entah sejak kapan bapak berlangganan koran, tetapi peristiwa itu
memperlihatkan bahwa Bapak benar-benar orang yang peduli dengan masalah-masalah
social kemasyarakatan. Selain kompas, setiap minggu bapak juga berlangganan
majalah berita nasional Tempo. Kedua media pemberitaan tersebut, Kompas dan
Tempo dari dulu hingga saat in memang menjadi media paling berbobot. Pernah
suatu ketika saat merapikan lemari buku dan gudang, bertahun majalah tempo yang
dilanggan bapak ketika ditumpuk untuk dirapikan mencapai tinggi hampir satu
setengah meter. Sebagian majalah tersedia pada akhir 1980-an disumbangkan
diperpustakaan kupang sewan yang waktu itu baru dibentuk remaja Islam disitu.
Sebagian terpaksa dijual karena tidak ada tempatnya.
Pentingnya selalu mengikuti pemberitaan juga
diperlihatkan bapak engan rutinitasnya menyempatkan melihat acara dunia dalam
berita di TVRI tiap jam 9 malam. Bapak, meski dengan cara tidak langsung, juga
mendorong anak-anaknya selalu mengikuti acara berita itu. Lebih dari itu, Bapak
juga termasuk pendengar yang cukup rutin untuk siara radio yang tidak biasa,
setiap minggu paginya. Yakni, mendengar radio siaran BBC London dan Australia
untuk Indonesia. Anak-anaknya yang terkadang juga dimintakan mencarikan dan
menyetting radio untuk mendapatkan dua siaran radio asing itu. Pada masa itu,
Orde Baru, siaran radio BBC dan ABC Australian menjadi pemberitaan alternative
yang kritis bagi yang ingin tahu analisa politik tanah air. Media tanah air
saat itu, baik surat kabar dan radio, apalagi televisi yang ada hanya TVRI,
sangat terbatas dalam memberikan info yang kritis akibat kebijakan sensor.
Merenungkan kembali pada fase-fase itu, minat dan
kepedulian yang tinggi dalam mengikuti perkembangan politik di tanah air dan
dunia untuk memperluas cakrawala, turut membentuk kepribadian putra-putrinya,
termasuk membentuk minat saya untuk mengerti politik lebih mendalam.
Perbincangan soal politik dan social keagamaan yang sangat mewarnai kehidupan
keluarga sehari-hari telah memunculkan berkah pemikiran yang kritis dan
berwawasan bagi keluarga besar Harun Rasyidi.
Bapak juga selalu menekankan pentingnya membentuk
jiwa kepemimpinan. Menengok kembali ke belakang di masa kecil, spirit
kepemimpinan ini sesungguhnya telah bapak taburkan kepada putra-putrinya selain
melalui perbincangan keseharian, juga melalui ceritera atau dongeng menjelang
tidur. Banyak ceritera yang didongengkan bapak kepada anak-anaknya berisikan
soal kepahlawanan dan pengorbanan. Bapak beberapakali mengingatkan bagi
putra-putranya untuk mampu tampil sebagai pemimpin umat, paling minimal kata
Bapak, para anak laki-lakinya harus bisa berkhotbah. Mengapa “berkhotbah”? menurut saya, bukan
berarti bapak menurunkan standard. Tetapi bapak sangat menyadari melalui
kiprahnya puluhan tahun sebagai pendakwah, bahwa khutbah yang bermutu
mempersyaratkan berbagai skill atau ketrampilan yang harus dimiliki seorang
kader, tidak hanya ilmu agama yang mendalam tetapi juga ketrampilan orasi atau
berpidato serta performa yang simpatik dihadapan umat yang mendengarkan pidato.
Berbagai khutbah dan ceramah bapak selama masa muda dan tuanya, mulai dari pengajian
bulanan di rumah ambara selagi penulis masih kecil hingga ceramah dalam
kegiatan keagamaan lain, menunjukkan dengan jelas bahwa berbagai ketrampilan
itu ada dalam diri bapak. Sehingga menjadikan ceramah bapak menarik dan
berkesan. Hingga saat ini, banyak orang tua yang masih terkenang ceramah dan
pengajian yang bapak selenggarakan setiap bulannya di rumah, sejak 1970-an
hingga awal 1980-an. Seorang pendeta di Ambarawa yang kembali muslim, Pak
Yahya, pada awal 1990an banyak mengutarakan kenangannya mengikuti pengajian
bapak. Di Jakarta, dua tokoh UIN Ciputat yang masa remajanya di Ambarawa,
Profesor Bahtiar Effendy (putra Haji Umar) dan Prof Hamdani Anwar, dalam
beberapa kesempatan juga mengutarakan kenangannya mengikuti pengajian dirumah
ambarawa masa itu.
Kembali soal pentingnya membentuk jiwa
kepemimpinan, ada cerita kecil saat penulis meninton acara tv suatu malam.
Kebetulan malam minggu. Sekita pukul 8 malam di malam minggu, seperti biasa,
TVRI menyiarkan program mimbar agama Kristen.
Penulis yang saat itu masih kelas 5 atau 6 SD secara spontan mematikan
TV, untuk apa melihat dan mendengar dakwah agama lain malah-malah kita bisa
dosa begitu kira-kira yang ada dibenak saya yang masih belasan tahun. Tetapi,
bapak yang ada di ruang tamu justru memerintahkan yang lain: hidupkan TV nya!!.
“Kan acara agama Kristen, Pak? Kok dihidupkan”. Dengan bijaksana bapak bilang,
“kamu tonton dan pelajari bagaimana pak pendeta berkhotbah, bagaimana cara dia
bicara dan bagaimana gerak tubuhnya”. Perintah yang awalnya ganjilpun akhirnya
menyadarkan bahwa belajar, termasuk dalam segi dakwah, dapat dipelajari dari
mana saja. Memang dibanding para mubaligh muslim lain yang biasa ada di TV,
terkecuali mungkin mubaligh Buya Hamka saat itu, para pendeta tampak lebih hidup,
ekspressif dan penuh tenaga dalam menyampaikan dakwah. Ketrampilan itu yang bapak inginkan bisa
ditampilkan putra-putranya.
Politik Sebagai Jalan Dakwah
Transisi dari masa Orde Lama ke Orde Baru dibawah pemimpinan
Presiden Soeharto yang secara efektif berlangsung sejak awal 1970-an membawa
beberapa perubahan dan konsekuensi. Pemerintahan Pak Harto yang baru ini
terkenal dengan dominasi tentara dan punya kecenderungan anti partai politik,
bahkan banyak yang menyebut sebagai anti-Islam. Rezim ini menjadikan juga birokrasi
sebagai pendukung rezim berkuasa. Pemerintah juga menciptakan Golongkan Karya
(Golkar) sebagai kepanjangan tangan politiknya, kekuatan politik lain serba
dibatsi gerak-geriknya. Bapak mengawali karier profesionalnya di awal 1970-an
dalam situasi yang kurang kondusif seperti itu untuk dakwah Islam. Suatu saat
Bapak pernag berceritera tentang kegalauannya di masa-masa itu, terus
melanjutkan kiprahnya melalui jalur Nahdlatul Ulama (NU) atau jalur lain. Tidak
bisa memilih keduanya. Apabila terus melalui NU, dengan sendirinya Bapak tidak
dapat memasuki birokrasi pemerintahan. Sebab, afiliasi politik NU adalah PPP
yang menjadi rival utama Golongan Karya. Pemerintah telah memutuskan bahwa
birokrasi harus menjadi bagian Golkar, mereka yang bukan dari golongan itu akan
disingkirkan.
Setelah istikharoh dan berkonsultasi dengan para
gurunya Bapak akhirnya memutuskan menampak jenjang karier di birokrasi
pemerintahan. Yang penting, menurut Bapak, semangat dan kegiatan dakwah harus
tetap hidup meski melalui wadah yang berbeda. Pilihan yang tidak ringan,
menimbang situasi social kala itu, tetapi pada akhirnya terbukti benar. Tidak
sedikit ulama dan tokoh Islam yang mengambil sikap seperti Bapak yang kemudian
dikucilkan dari komunitasnya karena dituduh opportunis. Bapak memasuki karier
baru di peradilan agama (PA) dengan spirit dakwah semacam itu. Sempat beberapa
tahun di peradilan agama Demak, lalu berlanjut di pengadilan agama Semarang.
Dimana Bapak mendapatkan amanah sebagai ketua pengadilan agama dalam waktu yang
cukup panjang, sekitar tujuh tahan (1978-1985). Pembangunan gedung PA Semarang
pada 1984 menjadi lebih bagus dan wibawa menjadi salah satu keberhasilan Bapak.
Sebagai aktifis dakwah, Bapak tidak berpuas hanya
disitu. Bapak terus mengembangkan kiprahnya dalam organisasi dan perkumpulan
Islam lainnya. Bapak dikenal luas dilingkungan ulama semarang dan Jawa Tengah
sebagian justru karena kiprahnya diluar jabatannya sebagai Ketua PA Semarang.
Aktifitas bapak tidak dapat dipisahkan dari baitullah, masjid. Selama di
semarang Bapak berpesran aktif sebagai salah ketua pengurus Masjid
Baiturrahman, salah satu masjid terbesar di semarang pada waktu itu. Dalam
kiprah ke ulamaan Bapak mendapat kepercayaan sebagai Ketua Majelis Ulama
Indonesia (MUI) Jawa tengah hingga akhir 1980-an. Di Golkar, bapak aktif di
organisasi keislaman Gabungan usaha Pembaharuan Pendidikan islam (GUPPI) dan
Majelis Dakwah Islamiyah (MDI). Ketokohan bapak di dua lembaga itu telah
membawa manfaat yang besar bagi pengembangan islam dan masyarakat. Melalui
GUPPI inilah, serta kedekatan bapak dengan tokoh-tokoh nasional, yayasan undaris kemudian berkembang pesat.
Hingga tidak tercatat banyaknya pejabat pusat, termasuk para menteri yang berkunjung
ke undaris ambarawa dan memberikan perhatian penuh, termasuk financial. Di MDI
bapak berkiprah bersama seniornya dan yang sekaligus dianggap gurunya, KH.
Muhammad Shofwam. Ketika Kiai Shofwam wafat bapak dipercaya menggantikan beliau
sebagai ketua MDI Jawa tengah. Posisi inilah yang kemudian mengantarkan beliau
menjadi anggota DPR RI antar waktu menggantikan Kiai Shofwam yang wafat pada
1985. Di Senayan, banyak tugas besar telah menunggu.
Bersambung….
Bapak dalam Reportase Wartawan Majalah Hidayah
MASJID AL-MUJAHIDIN, "Saksi Sejarah Perjuangan Umat Islam Ambarawa"Jika Anda menuju Jetis dari arah pasar Ambarawa, Anda dipastikan akan melihat sebuah masjid kokoh dan megah menghadap ke timur di samping kiri jalan. Keberadaan masjid ini menjadi sesuatu yang sangat berharga bagi umat Islam Ambarawa. Pasalnya, di sekitarnya terdapat banyak gereja dan lembaga pendidikan Kristiani. Selain itu, tempat dan seni arsitekturnya yang bernilai tinggi membuat masjid ini menjadi tempat yang “sejuk dan nyaman” untuk beribadah dan beristirahat.
Namanya Masjid al-Mujahidin. Dari segi leksikal (makna bahasa), al-Mujahidin berarti orang-orang yang sedang berjihad di jalan Allah. Nama ini tentu tidak begitu saja melekat pada masjid ini. Ada kesan “historis” di dalamnya. Ia menjadi saksi sejarah bagaimana umat Islam Ambarawa berjuang dengan gigih dan beraninya melawan penjajahan Belanda.
Masjid ini berdiri sekitar tahun 1700 masehi, 308 tahun yang lalu. Berarti usianya sudah 3 abad lebih. Masjid ini berdiri sebelum terjadi peperangan Pangeran Diponegoro yang sangat melegenda itu. Ia didirikan oleh KH. Tholahudin, seorang keturunan kerajaan Demak yang bernama Raden Trenggono.
“Menurut KH. Abdul Haq Watu Tongol dan KH. Muhaimin, KH. Tholahudin yang asli Demak itu merantau ke Ambarawa dalam rangka berdakwah. Tetapi, kondisi saat itu yang mencekam memaksanya untuk mengambil senjata melawan penjajah Belanda. Ia pun mendirikan masjid ini tidak saja sebagai sarana dakwahnya tapi juga sebagai basis perjuangan umat Islam kala itu,” ujar H. Muhammad Saleh, salah seorang pengurus Masjid al-Mujahidin.
Masjid ini juga menjadi saksi sejarah bagaimana seorang cendekiawan Muslim Indonesia terkenal dan mantan Menteri Agama era Presiden Soeharto, KH. Dr. Munawir Sadjali, MA., ikut berjuang melawan penjajah Belanda. Konon, saat penjajah Belanda mengerahkan pasukannya ke Ambarawa untuk memporakporandakan negeri ini, Munawir muda ikut menenteng senjata melawan mereka. Munawir memulakan perjuangannya dari masjid ini.
Masjid ini juga menjadi saksi sejarah bagaimana seorang cendekiawan Muslim Indonesia terkenal dan mantan Menteri Agama era Presiden Soeharto, KH. Dr. Munawir Sadjali, MA., ikut berjuang melawan penjajah Belanda. Konon, saat penjajah Belanda mengerahkan pasukannya ke Ambarawa untuk memporakporandakan negeri ini, Munawir muda ikut menenteng senjata melawan mereka. Munawir memulakan perjuangannya dari masjid ini.
“Bahkan, saat pesawat Belanda membombardir Ambarawa dari udara, Munawir sembunyi di bawah pohon sawo yang ada di belakang masjid dan beliau selamat. Hingga kini pohon sawo itu masih ada,”ujar H. Muhammad Soleh.
Konon, saat pesawat Belanda itu menembaki desa Ambarawa dari udara Masjid al-Mujahidin ini tidak terlihat dari atas. Dengan kekuasaan Allah, penjajah Belanda itu tidak sempat memporakporandakan masjid ini karena tak terpantau dari udara. Sehingga bom-bom udara pun hanya berjatuhan di sekitar masjid. Dan orang-orang yang bersembunyi di masjid pun selamat, termasuk Munawir Sadjali yang bersembunyi di bawah pohon sawo.
Sejak itulah, banyak umat Islam Ambarawa meyakini bahwa Masjid al-Mujahidin memiliki “daya magis” sendiri. Bagaimana tidak? Saat bangunan-bangunan di sekitarnya porak-poranda diluluhlantakan oleh pesawat udara penjajah Belanda, Masjid al-Mujahidin justru lepas dari pantauan, sehingga sedikit pun tak tergores oleh dahsyatnya bom-bom itu.
Jadi, Masjid al-Mujahidin benar-benar memiliki “nilai historis” yang sangat kuat bagi umat Islam Ambarawa. Ada beberapa hal untuk mendukung anggapan seperti ini. Pertama, ia menjadi tempat berdakwah dan berjuang umat Islam Ambarawa dan sekitarnya dalam mengusir penjajah Belanda seperti yang telah diungkapkan di atas. Kedua, ia menjadi satu-satunya masjid tertua di Ambawara –kalau bisa dikatakan sebagai salah satu masjid tertua di Semarang.
Dengan dua alasan di atas, Masjid al-Mujahidin pantas untuk selalu dilestarikan. Tidak saja bangunannya yang harus selalu dijaga, tapi juga perannya sebagai lokus spiritual: tempat beribadah, ngaji, dan kegiatan keagamaan lainnya.
Namun, dalam perkembangannya, Masjid al-Mujahidin tak kuat melawan waktu. Waktu terus berjalan seperti tidak perduli, sementara bangunan masjid sudah terlihat kian renta. Di sana-sini, bangunan masjid baik tiang, dinding atau atapnya sudah mulai rapuh. Jika tidak diperbaiki bisa berbahaya buat jamaah di dalamnya. Karena itu, setelah renovasi terakhir pada tahun 1974, masjid ini pun dipugar total pada tahun 1991.
Dengan perombakan total itu otomatis kesan sejarah dari masjid ini ada yang hilang. Tetapi pilihan pahit ini harus diambil demi tujuan yang jauh lebih baik. Sebab, bangunan masjid itu sudah tidak layak lagi dipertahankan. Memaksakan diri untuk dipertahankan, sama saja memberikan “ruang berbahaya” bagi jamaah yang ada di dalamnya.
Maka diangkatlah KH. Drs. Harun Rasyidi sebagai ketua panitia pembangunan masjid.
Konon, saat pesawat Belanda itu menembaki desa Ambarawa dari udara Masjid al-Mujahidin ini tidak terlihat dari atas. Dengan kekuasaan Allah, penjajah Belanda itu tidak sempat memporakporandakan masjid ini karena tak terpantau dari udara. Sehingga bom-bom udara pun hanya berjatuhan di sekitar masjid. Dan orang-orang yang bersembunyi di masjid pun selamat, termasuk Munawir Sadjali yang bersembunyi di bawah pohon sawo.
Sejak itulah, banyak umat Islam Ambarawa meyakini bahwa Masjid al-Mujahidin memiliki “daya magis” sendiri. Bagaimana tidak? Saat bangunan-bangunan di sekitarnya porak-poranda diluluhlantakan oleh pesawat udara penjajah Belanda, Masjid al-Mujahidin justru lepas dari pantauan, sehingga sedikit pun tak tergores oleh dahsyatnya bom-bom itu.
Jadi, Masjid al-Mujahidin benar-benar memiliki “nilai historis” yang sangat kuat bagi umat Islam Ambarawa. Ada beberapa hal untuk mendukung anggapan seperti ini. Pertama, ia menjadi tempat berdakwah dan berjuang umat Islam Ambarawa dan sekitarnya dalam mengusir penjajah Belanda seperti yang telah diungkapkan di atas. Kedua, ia menjadi satu-satunya masjid tertua di Ambawara –kalau bisa dikatakan sebagai salah satu masjid tertua di Semarang. Dengan dua alasan di atas, Masjid al-Mujahidin pantas untuk selalu dilestarikan. Tidak saja bangunannya yang harus selalu dijaga, tapi juga perannya sebagai lokus spiritual: tempat beribadah, ngaji, dan kegiatan keagamaan lainnya.
Namun, dalam perkembangannya, Masjid al-Mujahidin tak kuat melawan waktu. Waktu terus berjalan seperti tidak perduli, sementara bangunan masjid sudah terlihat kian renta. Di sana-sini, bangunan masjid baik tiang, dinding atau atapnya sudah mulai rapuh. Jika tidak diperbaiki bisa berbahaya buat jamaah di dalamnya. Karena itu, setelah renovasi terakhir pada tahun 1974, masjid ini pun dipugar total pada tahun 1991.
Dengan perombakan total itu otomatis kesan sejarah dari masjid ini ada yang hilang. Tetapi pilihan pahit ini harus diambil demi tujuan yang jauh lebih baik. Sebab, bangunan masjid itu sudah tidak layak lagi dipertahankan. Memaksakan diri untuk dipertahankan, sama saja memberikan “ruang berbahaya” bagi jamaah yang ada di dalamnya.
Maka diangkatlah KH. Drs. Harun Rasyidi sebagai ketua panitia pembangunan masjid. “Beliau memberikan dorongan kepada anak muda seperti saya untuk memugar masjid ini dan membangunnya kembali dengan yang lebih kokoh dan megah. Mumpung masih hidup dan diberi rejeki. Buat anak cucu kita,” ujar H. Muhammad Soleh.
Posisi strategis yang dimiliki oleh KH. Rasyidin kala itu membuatnya sangat dekat dengan Menteri Agama KH. Munawir Sadjali. Beliau pun lalu menyumbang 25 juta untuk kelancaran pembangunan masjid. Saat pergantian kabinet dan menteri agama diganti oleh Dr. H. Tarmidzi Taher, ia pun ikut menyumbang masjid ini seperti pendahulunya yaitu sebesar 100 juta.
Posisi strategis yang dimiliki oleh KH. Rasyidin kala itu membuatnya sangat dekat dengan Menteri Agama KH. Munawir Sadjali. Beliau pun lalu menyumbang 25 juta untuk kelancaran pembangunan masjid. Saat pergantian kabinet dan menteri agama diganti oleh Dr. H. Tarmidzi Taher, ia pun ikut menyumbang masjid ini seperti pendahulunya yaitu sebesar 100 juta. “Tetapi, sebagian besar dana pembangunan masjid dari swadaya masyarakat,” ujar H. Muhammad Soleh.
Setelah enam tahun berjalan, Masjid Al-Mujahidin yang megah dan kokoh pun selesai dibangun tahun 1997 dengan menghabiskan biaya sekitar 1 milyar min 300 ribu rupiah (Rp. 999.700.000,-). Lima tahun kemudian (tahun 2008), menyusul menara masjid setinggi 41 meter selesai dibangun.
Arsitektur masjid mengikuti pola campuran. Serambinya mengikuti tradisi Jawa berbentuk empat persegi panjang dengan beberapa tiang penyanggah sedang kubahnya berpolakan Madinah.
Setelah enam tahun berjalan, Masjid Al-Mujahidin yang megah dan kokoh pun selesai dibangun tahun 1997 dengan menghabiskan biaya sekitar 1 milyar min 300 ribu rupiah (Rp. 999.700.000,-). Lima tahun kemudian (tahun 2008), menyusul menara masjid setinggi 41 meter selesai dibangun.
Arsitektur masjid mengikuti pola campuran. Serambinya mengikuti tradisi Jawa berbentuk empat persegi panjang dengan beberapa tiang penyanggah sedang kubahnya berpolakan Madinah. “Yang jelas, tenaga kerja dan materi bangunannya dari Magelang semua,” ujar H. Muhammad Soleh.
Masjid yang semuanya terbuat dari kayu jati ini terdiri dari empat tiang utama (dari kayu jati) yang bentuknya lebih besar dibanding 14 tiang lainnya yang terbuat dari keramik warna putih. Masjid ini bertingkat dan masing-masing tingkat ada mimbarnya, di mana samping kanan dan kiri mimbar ada jam menempel di dinding.
Delapan kipas angin ikut mewarnai keindahan bagian dalam masjid, sehingga jamaah pun tidak kegerahan saat berada di dalam untuk shalat atau beristirahat. Untuk menuju tingkat atas, jamaah bisa menggunakan dua tangga yang mengapit kanan kiri masjid.
Jamaah juga dimudahkan dengan tempat air wudhu yang nyaman. Sekitar 12 kran air wudhu terpasang dan 5 tempat buang hajat kecil serta 3 toilet. Unsur tradisional dari masjid ini masih ditonjolkan dengan adanya kentongan dan bedug yang besar di dekat tempat air wudhu. Sayangnya, pada bagian kubah masjid yang indah ini tak terukir tulisan kaligrafi seperti yang biasa kita lihat pada masjid-masjid modern. Meski demikian, hal itu tidak mengurangi sedikit pun kemegahan dan kekokohan masjid ini.
Masjid yang beralamatkan di Jl. Dr. Cipto Palagan Ambarawa ini memiliki kegiatan rutin setiap minggunya. Setiap Ahad pagi jam 05.30-,06.30 selalu diadakan kuliah. Setelah itu dilanjutkan dengan periksa kesehatan/UKM pada jam 06.30-07.30. Sedang Ahad sore (jam 15.30-17.00) diselenggarakan seni baca al-Qur’an.
Pada hari Senin (jam 15.00-17.00) diadakan pengajian tafsir al-Qur’an seperti Tafsir al-Maraghi dan Fathul Mu’in. Lalu setiap Ahad wage (jam 09.00-12.00) diadakan tahtimul qur’an (khatamal qur’an), mujahadah qubro dan pengajian.
Masjid yang semuanya terbuat dari kayu jati ini terdiri dari empat tiang utama (dari kayu jati) yang bentuknya lebih besar dibanding 14 tiang lainnya yang terbuat dari keramik warna putih. Masjid ini bertingkat dan masing-masing tingkat ada mimbarnya, di mana samping kanan dan kiri mimbar ada jam menempel di dinding.
Delapan kipas angin ikut mewarnai keindahan bagian dalam masjid, sehingga jamaah pun tidak kegerahan saat berada di dalam untuk shalat atau beristirahat. Untuk menuju tingkat atas, jamaah bisa menggunakan dua tangga yang mengapit kanan kiri masjid.
Jamaah juga dimudahkan dengan tempat air wudhu yang nyaman. Sekitar 12 kran air wudhu terpasang dan 5 tempat buang hajat kecil serta 3 toilet. Unsur tradisional dari masjid ini masih ditonjolkan dengan adanya kentongan dan bedug yang besar di dekat tempat air wudhu. Sayangnya, pada bagian kubah masjid yang indah ini tak terukir tulisan kaligrafi seperti yang biasa kita lihat pada masjid-masjid modern. Meski demikian, hal itu tidak mengurangi sedikit pun kemegahan dan kekokohan masjid ini.
Masjid yang beralamatkan di Jl. Dr. Cipto Palagan Ambarawa ini memiliki kegiatan rutin setiap minggunya. Setiap Ahad pagi jam 05.30-,06.30 selalu diadakan kuliah. Setelah itu dilanjutkan dengan periksa kesehatan/UKM pada jam 06.30-07.30. Sedang Ahad sore (jam 15.30-17.00) diselenggarakan seni baca al-Qur’an.
Pada hari Senin (jam 15.00-17.00) diadakan pengajian tafsir al-Qur’an seperti Tafsir al-Maraghi dan Fathul Mu’in. Lalu setiap Ahad wage (jam 09.00-12.00) diadakan tahtimul qur’an (khatamal qur’an), mujahadah qubro dan pengajian.
Selain kegiatan-kegiatan spiritual, Masjid al-Mujahidin juga berkecimpung pada kegiatan sosial dengan mendirikan GOTA (Gerakan Oraang Tua Asuh). Selama ini gerakan ini masih berjalan dengan cukup baik.
Demikian Masjid Al-Mujahidin dengan segala peran spiritual dan sosialnya bagi umat Islam Ambarawa. Eksistensinya sebagai lokus perjuangan umat Islam Ambarawa pada masa penjajahan Belanda tak diragukan lagi. Semoga 100 tahun ke depan, seperti keinginan KH. Rasyidi saat masjid ini pertama kali dipugar total, masjid ini tetap berdiri kokoh –bahkan, ribuan tahun ke depan. Amien! (Eep K)Diposkan oleh Eep Khunaefi di 12.46
0 komentar:
Posting Komentar