Jejak Dakwah dan Perjuangan KH. Harun Rasyidi

on Sabtu, 31 Agustus 2013
Jejak Dakwah dan Perjuangan KH. Harun Rasyidi


Pandangan Bapak tentang Mbah Seco dan KH. Badaruddin

Perihal mbah Seco, bapak tidak banyak menceriterakan. Bapak hanya bercerita tentang beliau beberapa hal yang ia ketahui, yakni bahwa Mbah Seco adalah seorang kyai tarekat. Ia memang tidak memiliki pesantren yang menetap, tetapi memiliki banyak murid. Bagaimana beliau berdakwah hingga memiliki banyak pengikut? Menurut Bapak model dakwah Mbah Seco adalah dengan melakukan tirakat keliling ke gunung-gunung untuk mengajarkan dakwah Islam. Yang beberapakali bapak sebutkan antara lain di daerah sumowono atas. Jadi Mbah Seco berangkat sendirian dari rumah kemudian selama beberapa hari melakukan tirakat perjalanan dakwah, singgah dari satu dusun ke dusun yang lain, waktu pulang kembali ke rumah Ambarawa sudah ada puluhan orang yang mengikuti beliau sebagai muridnya. Seperti lazimnya kyai zaman dulu, selain ahli agama, mbah Seco juga seorang tabib. Keahliannya sebagai tabib inilah yang mungkin merupakan salah satu keunggulan yang dimiliki beliau dan memudahkan beliau untuk mendekati masyarakat pedesaan bagi kepentingan dakwah.

Masih soal jejak Mbah Seco, suatu ketika di awal atau pertengahan 1990-an bapak bercerita bahwa dulu waktu masih muda pernah diminta mengisi pengajian di sebuah desa daerah sumowono atas. Banyak penduduk desa yang menghadiri pengajian Bapak, dari anak-anak, ibu-ibu, bapak-bapak hingga mereka yang sudah sepuh atau lanjut usia. Bapak bercerita bahwa para hadirin merasa kagum dengan pengajian bapak. Bisa dibayangkan pada waktu itu figure seperti bapak, sosok pemuda tampan, terpelajar dan pandai soal agama, masih sangat langka. Tapi yang penting disini adalah beberapa saat setelah usai pengajian beberapa sesepuh yang hadir menemui Bapak. Mungkin karena menyaksikan cara ceramah bapak, bagaimana gerak-gerik dan pembicaraanya atau karena penampilan fisik bapak, hingga mereka ingin tahu lebih banyak soal bapak. Sepertinya apa yang dilihat pada diri bapak mengingatkan para sesepuh itu kepada sosok penting pendakwah yang zaman dulu kala mengislamkan mereka. Para sesepuh ini menyatakan bahwa mereka dulu pada masa muda atau remajanya adalah santri-santri dari Mbah Seco. Menurut bapak, para sesepuh ini meresa gembira dan sekaligus terharu setelah mengetahui bahwa Bapak ternyata merupakan cucu dari Mbah Seco guru mereka dahulu. Cerita bapak ini membuktikan bahwa sosok mbah Seco sebagai pendakwah dan sekaligus berperan penting dalam mengislamkan masyarakat bukan merupakan rekaan belaka tetapi kisah yang nyata. Sayangnya masih sedikit sekali kisah Mbah Seco yang bias diungkapkan. Belum ada info yang jelas soal asal usul Mbah Seco, serta kapan beliau pertamakalinya berada di Ambarawa.

Tentang Kiai Badaruddin sendiri masih banyak informasi yang dapat digali. Beliau dikenal luas sebagai kiai dan sekaligus tabib. Semasa perang kemerdekaan, kiai Badaruddin berperan penting dalam mensupport para pejuang dengan kekuatan spiritualnya. Dikisahkan bahwa beliau juga memiliki kedalaman dalam ilmu kanuragan atau kesaktian. Ratusan pemuda pejuang sengaja datang ke rumah Ambarawa untuk di doakan oleh mbah Kiai. Bersyaf-syaf para mujahid ini mengantre untuk mendapatkan penguatan spiritual Mbah Kiai Badaruddin yang diyakininya, berkat kekuatan tirakatnya kepada Yang Maha Kuasa, mampu memberikan kekebalan. Kedekatan mbah Kiai dengan pejuang ini rupanya terendus oleh penjajah ketika itu. Kedudukan beliau sebagai penguat spiritual para pejuang ini dianggap membahayakan. Oleh penjajah saat itu pada pertengahan 1940-an, kemungkinan oleh pihak tentara Inggris atau sekutu, mbah Kiai Badaruddin beberapa kali diinterogasi bahkan konon sempat dipenjara. Darah jihad dan kejuangan, Alhamdulillah selalu hidup dalam keluarga besar mbah Kiai Badaruddin hingga anak cucunya.

Putri mbah Kiai Badaruddin, mbah Asmanah atau yang oleh cucu-cucunya dikenal sebagai Mbah Bener, juga menikah dengan seorang kiai pejuang. yakni mbah KH. Ashuri (atau Ashary?) -putra KH. Jalal Suyuthi- yang melegenda itu. Mbah Kiai Ashuri tercatat dalam beberapa buku sejarah perjuangan di Salatiga dan sekitarnya. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Lakpesdam NU akhir 1990-an, nama KH. Ashuri muncul sebagai seorang kiai pejuang yang bersama-sama pasukan Sabilillah menggelorakan pertempuran melawan sekutu di daerah Salatiga, Bringin dan Ambarawa.  Tidak hanya memberikan dukungan moral, tetapi beliau turun langsung di tengah para pejuang muslim berjihad mengusir penjajah.

Perjalanan Pendidikan Bapak

Bapak menceriterakan bahwa masa remajanya hidup dengan penuh keprihatinan. Meski bukan dari keluarga miskin, tetapi juga tidak berlebih. Kondisi ekonomi keluarga tentunya berpengaruh penting dalam menunjang keberhasilan seseorang termasuk dalam aspek pendidikan. Beberapa kali kesempatan bapak menceriterakan bahwa tentang kehidupan yang penuh keprihatinan ini, tetapi sama sekali tidak dengan nada mengeluh. Yang saya tangkap justru ingin memberikan pesan kepada anak-anaknya bahwa meski dalam kesulitan, ikhtiar dan doa harus terus dilakukan. Bapak melewati masa remajanya dengan kehidupan yang keras. Bapak sendiri, dan termasuk Lek Hari, menceriterakan bahwa puasa sunnah senin dan kamis selalu bapak jalani pada masa remajanya dulu di Mlobo. Lek Hari bahkan bilang, bapak itu jago puasa. Saya kira, Bapak meyakini bahwa puasa ini bagian dari ikhtiar yang harus dilalui demi mencapai kehidupan yang mulia nantinya. Alhamdulilah, perjalanan sejarah membuktikan bahwa apa yang bapak yakini ternyata terwujud.

Bapak sendiri menempuh pendidikan formal, sekolah rakyat atau SR, di Panjang. Terdapat foto bersejarah bapak dengan teman-teman sekolahnya masa SR dulu. Masa sekolahnya di Panjang menunjukkan bahwa bapak pada masa kanak-kanannya tinggal di Ambarawa setidaknya mungkin sampai selesai atau lulus SR. Pendidikan selepas dari SR saya kurang begitu jelas, bapak tidak bercerita banyak. Tetapi sebagaimana lazimnya tradisi keluarga santri, bapak sepertinya langsung dikirimkan ke pondok pesantren untuk menempuh pendidikan agama non formal. Bapak sekali dua kali pernah menyatakan beliau pernah mondok di Pesantren Jamsaren Solo. Sebuah pesantren Solo yang dahulu kala harum namanya dan melahirkan banyak kiai. Saya denger pesantren ini, dari Nasif Ubadah, kini telah berubah menjadi lembaga pendidikan al Islam karena setelah sekian lama mengalami krisis dan kevakuman. Sepertinya di pondok ini bapak tidak begitu lama, mungkin setahun atau dua tahun. Tetapi tidak ada cukup info setelah itu kemana, mungkin saja mondok di Bener Salatiga.

Perjalanan bapak selanjutnya saya kurang jelas, mengambil PGA atau apa di Yogya. Informasi yang sampai kepada saya selanjutnya bapak sudah kuliah di IAIN Yogyakarta. Bapak kuliah di fakultas syariah. Seperti telah disampaikan sebelumnya di IAIN Yogya bapak tidak hanya menjadi model mahasiswa kuliahan biasa yang hanya bertekun untuk menggondol gelar, tetapi kondisi Indonesia saat itu tahun 1960-an dimana “politik menjadi panglima” serta suasana yang terua bergolak, sepertinya telah memikat dan memanggil Bapak untuk terjun menjadi aktifis. Dari latar belakang keluarga dan tradisi NU, tidak mengherankan kemudian bapak memiliki berkiprah di IPPNU dan PMII, dua organisasi pemuda dan kemahasiswaan yang ketika itu memang merupakan onder bouw Nahdlatul Ulama.

Bapak menceriterakan bahwa dalam kehidupannya yang serba pas-pasan, beliau di Yogyakarta bertinggal di rumah Pak De Sofyan. Saya tidak begitu jelas sejak kapan dan berapa lama tinggal di rumah Pak De. Masa awal di Yogya terasa berat dan penuh ujian bagi Bapak. Dengan bertumpu kepada kiriman ala kadarnya di orang tua setiap beberapa bulannya, bapak harus memenuhi segala kebutuhannya sebagai pelajar dan mahasiswa yang pasti lebih mahal dibandingkan di desa. Bapak bercerita, dalam kondisi yang penuh keprihatinan, makan hanya sehari dua kali dan itupun apa adanya. Yang pasti, puasa senin kamis terus tidak terputus.

Ada satu cerita menarik menyangkut karier pendidikan Bapak. Sebagai seorang mahasiswa, termasuk Bapak, tentunya capaian keberhasilan terpeting adalah saat dinyatakan lulus kuliah. Apalagi pada akhir 1960-an dimana orang terpelajar masih langka, berhasil menjadi sarjana merupakan karunia yang luar biasa. Begitupun bagi bapak yang melampauinya dengan susah payah berkat dari doa dan dukungan orangtuanya yang ada di desa Mlobo. Bapak cerita pada moment yang paling membahagiakan itu, saat dinyatakan lulus dan berhak menggunakan gelar doktorandus, yang pertamakali Bapak jumpai untuk diberitahuakan kabar kelulusannya adalah mbah Kiai Benar, bapaknya Ibu kita. Bapak bilang, sengaja pertemakali menjumpai dan mengabarkan ke mbah Kiai Bener, bukan mbah kiai Mlobo yang merupakan bapaknya sendiri, sebab Mbak Kiai Bener adalah sosok ulama, guru bapak, yang mengerti dan memiliki perhatian penuh tentang pendidikan. Termasuk karier pendidikan bapak. Bukan berarti kurang menghargai orang tuanya sendiri, karena bapak mengatakan mbah Kiai Mlobo merupakan sosok yang agak lugu dan memang masih tradisionil. Bapak juga bilang ketika menghadapi persoalan-persoalan terkait dengan pendidikan bapak atau keilmuwan, yang pertamakali beliau sowani untuk berkonsultasi adalah Mbah Kiai Bener. Sepertinya sebelum bapak dan ibu menikah, telah terjalin hubungan yang sangat akrab dan kedekatan, baik secara intelektual maupun emosional antara Mbah Kiai Benar dengan bapak.


Bapak Sebagai Aktifis

Bapak menceriterakan bahwa pada kira-kira pertengahan 1960-an pernah dikejar oleh kelompok yang berafiliasi dengan gerakan komunis, Bapak menyebutnya PKI saja. Peristiwa itu terjadi setelah Bapak selesai memberikan ceramah atau pengajian di Gedung Bioskop Garuda Ambarawa. Ada satu atau dua truk yang mengejar dan mencari Bapak ke Salatiga, tetapi beruntung bahwa ketika mereka nyampai Salatiga, Bapak sudah meninggalkan Salatiga menuju Yogya melewati Solo. Menurut dugaan Bapak, kelompok yang mencari Bapak ini bertujuan menangkap dan mungkin juga menghabisi nyawa Bapak. Seperti diketahui bahwa pada pertengahan 1960-an Bapak menduduki posisi yang penting dalam gerakan pemuda Islam yang melancarkan perlawanan terhadap komunisme. Di Yogyakarta Bapak menjabat sebagai Ketua Ikatan Putra Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) CabangYogyakarta. Selain di IPPNU, Bapak juga menjabat sebagai sekretaris umum Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Yogyakarta, pada saat itu Ketua Cabangnya Bapak Saiful Mujab, pada tahun 1980-an hingga 1990-an, beliau dikenal sebagai tokoh NU dengan sebutan “pengusaha sarungan”.

Suatu ketika Bapak juga pernah menceriterakan peristiwa pergolakan politik pertengahan 1960-an di Yogyakarta. Ntah dalam peristiwa apa, pada saat itu Bapak masih sebagai pimpinan aktifis gerakan mahasiswa PMII, terjadi clash antara tentara menghadapi mahasiswa. Tentara yang dengan membawa senjata lengkap dan kendaraan tempur menyerbu aksi demo mahasiswa dan melakukan penangkapan-penangkapan. Dengan bangga Bapak mengatakan berhasil menyelinap dan  meloloskan diri dari penangkapan oleh tentara, padahal banyak dari sahahabtnya sesame aktifis yang tertangkap.

Perjuangan Bapak dalam dakwah dan politik pada masa itu di Ambarawa juga diperlihatkan dengan inisiatifnya mendirikan IPPNU Ambarawa. Kalau tidak keliru Bapak menjadi Ketuanya. Foto dokumentasi pendirian IPPNU Cabang Ambarawa hingga sekarang masih ada. Bapak duduk di posisi tengah diapit oleh beberapa pengurus lainnya. Salah satu pengurus IPPNU yang saya kenal adalah Pak Lik Kasani Kupang  Sewan. Saya kira beliau bias bercerita banyak soal kiprah Bapak terkait dengan pembentukan IPPNU dan kegiatan dakwahnya pada masa-masa kritis tersebut.

Dari cerita dan dokumentasi yang ada, Bapak melanjutkan kiprahnya sebagai pimpinan IPPNU pada level nasional. Tapi saya tidak tahu jabatan structural di IPPNU Pusat sebagai apa, tetapi sepertinya sangat strategis. Tentang hal ini ada cerita: waktu saya masih mahasiswa di Unair pertengahan 1990-an, saya suatu ketika pernah menyebut kepada Bapak saat obrolan biasa di rumah Ambarawa, tentang  Ketua PPP Jawa Timur yakni KH. Syumli Sadeli kepada Bapak. Bapak menimpali, Pak Syumli itu temen Bapak. Saya nanya ke Bapak teman apa? Kan partainya beda, Bapak di Golkar, Pak Syumli di PPP. Bapak kemudian bilang bahwa pad,a pertengahan 1960-an. Mungkin beberapa saat setelah pemberontakan PKI, Bapak pernah menjadi memimpin apel akbar IPPNU se- Jawa Timur di Surabaya. Pada waktu itu Bapak ditunjuk oleh IPPNU Pusat untuk menjadi komandan upacara. Nah, Pak Syumli saat itu sebagai Ketua IPPNU Jawa Timur. Beberapa politisi ulung an Ketua PPP Jatim sebelumnya, KH. Sulaiman Fadeli, juga dikenal baik oleh Bapak karena sesame aktifis IPPNU. Suatu ketika saya bertemu KH. Syumli sadeli, Ketua PPP Jatim saat itu, saya sampaikan salam Bapak ke beliau. Beliau tampak terkejut, dan sambil sedikit tertawa bilang. “putranya Pak Harun Semarang ya? Salam balik dari saya. Pak Harun sahabat saya di IPPNU dan sampai dengan saat ini di politik, meskipun saya di PPP”. Sedikit cerita ini memperlihatkan bahwa Bapak bukanlah seorang pendakwah biasa, yang hanya memberikan ceramah. pengajian. Tetapi Bapak juga berjuang melalui jalur aktifis. Kiprah di IPPNU memperlihatkan bahwa Bapak menampaki karier yang penting di IPPNU, selain dari cerita Bapak sendiri maupun bukti persahantannya dengan para tokoh mantan aktifis IPPNU yang ada di berbegai daerah. Dokumentasi foto juga dengan jelas menceritarakan kehadiran Bapak dalam konggres-konggres IPPNU nasional. Kalau diperhatikan cermat, Bapak menghadiri tidak sebagai anggota atau utusan biasa, tetapi sebagai panitia atau pengurus yang menduduki jabatan penting.

Pada awal tahun 2000-an, ada seorang aktifis IPNU Pusat, saya lupa namanya kalau tidak salah Arvin atau Alfin beberapa kali berusaha menemui Bapak untuk menulis sejarah perjuangan IPPNU dimana peran Bapak pernah tercover dalam salah satu tabloid mingguan Citra. Kalau tidak salah yang nulis Pak Kaswanto. Pengurus IPNU tadi akhirnya berjumpa Bapak, tetapi karena kondisi Bapak yang sdg recovery dari sakit Bapak bilang sudah agak terlupa sejarah saat itu dan penulis tadi diminta ketemu saya. Sayang setelah kontak beberapa kali, tidak sempat dilanjuti.

Kecintaan Kepada Ilmu

Bapak merupakan pribadi yang mencintai ilmu pengetahuan dan memiliki hasrat yang kuat dalam mengikuti berita-berita actual, baik nasional maupun internasional. Ini mungkin yang memebedakan bapak dengan kiai pesantren pada umumnya. Ratusan kitab, kebanyakan kitba fiqih. yang berderat dalam lemari rak buku menjadi saksi nyata bagaimana bapak tidak hanya puas dengan pemahaman dasar tentang fikih Islam. Tentunya, pemahaman yang mendalam tentang fikih atau hokum Islam ini memang sangat penting artinya Bapak sebagai pendakwah, yang setiap harinya harus bergelut dengan soal-soal social keagamaan masyarakat dan bapak sebagai hakim pengadilan agama semarang.

Menelusuri kebelakang, kuatnya tradisi keilmuan Bapak yang berkembang sejak muda sepertinya tidak dapat dilepaskan dengan spirit bapak sebagai seorang pendidik. Selepas dari lulus kuliahnya di Yogyakarta, selain turut merintis berdirinya SPIAIN di Ambarawa di tahun awal 1970-an yang kemudian berkembang menjadi IAIN Salatiga, bapak juga menjadi seorang pengakar disitu. Suatu saat di awal 1990-an, Pak Muslich guru agama di SMA Ambarawa, pernah menceritakan bagaimana beliau terkesan dengan cara mengajar Bapak. Sepertinya, Pak Muslich sempat menjadi siswa bapak ketika itu. Segi lain yang mengesankan adalah bahwa apabila kita lihat judul buku-buku yang dikoleksi Bapak, selain kita—kitan fikih, terdapat beberapa judul yang aneh untuk ukuran seorang ulama pendakwah biasa. Bapak ternyata juga mengkoleksi buku karya tokoh dan pemikir besar seperti Ir. Soekarno, Philip L. Stodard, hingga Lenin. Buku Soekarno “Di Bawah Bendera Revolusi” Stodard, “Pasang Naik Kulit Berwarna”, dan “Lenin Writings” tersimpan rapi di lemari buku Bapak bersama banyak lain buku social dan keagamaan.

Bapak juga berulangkali kepada putra-putrinya mengajarkan pentingnya peduli dengan masalah-masalah actual bangsa dan umat. Untuk menjadi pejuang, pesan yang selalu digaris bawahi bapak, penting untuk memiliki wawasan yang luas. Tidak hanya mengerti hal agama dan peribadatan saja, tetapi mesti lebih. Tidah hanya menganjurkan, tetapi bapak juga telah membuktikan. Sejak penulis berada di sekolah dasar, awal hingga pertengahan 1980-an, setiap sore secara rutin melihat surat kabar Kompas sudah berada diruang tamu. Entah sejak kapan bapak berlangganan koran, tetapi peristiwa itu memperlihatkan bahwa Bapak benar-benar orang yang peduli dengan masalah-masalah social kemasyarakatan. Selain kompas, setiap minggu bapak juga berlangganan majalah berita nasional Tempo. Kedua media pemberitaan tersebut, Kompas dan Tempo dari dulu hingga saat in memang menjadi media paling berbobot. Pernah suatu ketika saat merapikan lemari buku dan gudang, bertahun majalah tempo yang dilanggan bapak ketika ditumpuk untuk dirapikan mencapai tinggi hampir satu setengah meter. Sebagian majalah tersedia pada akhir 1980-an disumbangkan diperpustakaan kupang sewan yang waktu itu baru dibentuk remaja Islam disitu. Sebagian terpaksa dijual karena tidak ada tempatnya.

Pentingnya selalu mengikuti pemberitaan juga diperlihatkan bapak engan rutinitasnya menyempatkan melihat acara dunia dalam berita di TVRI tiap jam 9 malam. Bapak, meski dengan cara tidak langsung, juga mendorong anak-anaknya selalu mengikuti acara berita itu. Lebih dari itu, Bapak juga termasuk pendengar yang cukup rutin untuk siara radio yang tidak biasa, setiap minggu paginya. Yakni, mendengar radio siaran BBC London dan Australia untuk Indonesia. Anak-anaknya yang terkadang juga dimintakan mencarikan dan menyetting radio untuk mendapatkan dua siaran radio asing itu. Pada masa itu, Orde Baru, siaran radio BBC dan ABC Australian menjadi pemberitaan alternative yang kritis bagi yang ingin tahu analisa politik tanah air. Media tanah air saat itu, baik surat kabar dan radio, apalagi televisi yang ada hanya TVRI, sangat terbatas dalam memberikan info yang kritis akibat kebijakan sensor.

Merenungkan kembali pada fase-fase itu, minat dan kepedulian yang tinggi dalam mengikuti perkembangan politik di tanah air dan dunia untuk memperluas cakrawala, turut membentuk kepribadian putra-putrinya, termasuk membentuk minat saya untuk mengerti politik lebih mendalam. Perbincangan soal politik dan social keagamaan yang sangat mewarnai kehidupan keluarga sehari-hari telah memunculkan berkah pemikiran yang kritis dan berwawasan bagi keluarga besar Harun Rasyidi.

Bapak juga selalu menekankan pentingnya membentuk jiwa kepemimpinan. Menengok kembali ke belakang di masa kecil, spirit kepemimpinan ini sesungguhnya telah bapak taburkan kepada putra-putrinya selain melalui perbincangan keseharian, juga melalui ceritera atau dongeng menjelang tidur. Banyak ceritera yang didongengkan bapak kepada anak-anaknya berisikan soal kepahlawanan dan pengorbanan. Bapak beberapakali mengingatkan bagi putra-putranya untuk mampu tampil sebagai pemimpin umat, paling minimal kata Bapak, para anak laki-lakinya harus bisa berkhotbah.  Mengapa “berkhotbah”? menurut saya, bukan berarti bapak menurunkan standard. Tetapi bapak sangat menyadari melalui kiprahnya puluhan tahun sebagai pendakwah, bahwa khutbah yang bermutu mempersyaratkan berbagai skill atau ketrampilan yang harus dimiliki seorang kader, tidak hanya ilmu agama yang mendalam tetapi juga ketrampilan orasi atau berpidato serta performa yang simpatik dihadapan umat yang mendengarkan pidato. Berbagai khutbah dan ceramah bapak selama masa muda dan tuanya, mulai dari pengajian bulanan di rumah ambara selagi penulis masih kecil hingga ceramah dalam kegiatan keagamaan lain, menunjukkan dengan jelas bahwa berbagai ketrampilan itu ada dalam diri bapak. Sehingga menjadikan ceramah bapak menarik dan berkesan. Hingga saat ini, banyak orang tua yang masih terkenang ceramah dan pengajian yang bapak selenggarakan setiap bulannya di rumah, sejak 1970-an hingga awal 1980-an. Seorang pendeta di Ambarawa yang kembali muslim, Pak Yahya, pada awal 1990an banyak mengutarakan kenangannya mengikuti pengajian bapak. Di Jakarta, dua tokoh UIN Ciputat yang masa remajanya di Ambarawa, Profesor Bahtiar Effendy (putra Haji Umar) dan Prof Hamdani Anwar, dalam beberapa kesempatan juga mengutarakan kenangannya mengikuti pengajian dirumah ambarawa masa itu.

Kembali soal pentingnya membentuk jiwa kepemimpinan, ada cerita kecil saat penulis meninton acara tv suatu malam. Kebetulan malam minggu. Sekita pukul 8 malam di malam minggu, seperti biasa, TVRI menyiarkan program mimbar agama Kristen.  Penulis yang saat itu masih kelas 5 atau 6 SD secara spontan mematikan TV, untuk apa melihat dan mendengar dakwah agama lain malah-malah kita bisa dosa begitu kira-kira yang ada dibenak saya yang masih belasan tahun. Tetapi, bapak yang ada di ruang tamu justru memerintahkan yang lain: hidupkan TV nya!!. “Kan acara agama Kristen, Pak? Kok dihidupkan”. Dengan bijaksana bapak bilang, “kamu tonton dan pelajari bagaimana pak pendeta berkhotbah, bagaimana cara dia bicara dan bagaimana gerak tubuhnya”. Perintah yang awalnya ganjilpun akhirnya menyadarkan bahwa belajar, termasuk dalam segi dakwah, dapat dipelajari dari mana saja. Memang dibanding para mubaligh muslim lain yang biasa ada di TV, terkecuali mungkin mubaligh Buya Hamka saat itu, para pendeta tampak lebih hidup, ekspressif dan penuh tenaga dalam menyampaikan dakwah.  Ketrampilan itu yang bapak inginkan bisa ditampilkan putra-putranya.

Politik Sebagai Jalan Dakwah

Transisi dari masa Orde Lama ke Orde Baru dibawah pemimpinan Presiden Soeharto yang secara efektif berlangsung sejak awal 1970-an membawa beberapa perubahan dan konsekuensi. Pemerintahan Pak Harto yang baru ini terkenal dengan dominasi tentara dan punya kecenderungan anti partai politik, bahkan banyak yang menyebut sebagai anti-Islam. Rezim ini menjadikan juga birokrasi sebagai pendukung rezim berkuasa. Pemerintah juga menciptakan Golongkan Karya (Golkar) sebagai kepanjangan tangan politiknya, kekuatan politik lain serba dibatsi gerak-geriknya. Bapak mengawali karier profesionalnya di awal 1970-an dalam situasi yang kurang kondusif seperti itu untuk dakwah Islam. Suatu saat Bapak pernag berceritera tentang kegalauannya di masa-masa itu, terus melanjutkan kiprahnya melalui jalur Nahdlatul Ulama (NU) atau jalur lain. Tidak bisa memilih keduanya. Apabila terus melalui NU, dengan sendirinya Bapak tidak dapat memasuki birokrasi pemerintahan. Sebab, afiliasi politik NU adalah PPP yang menjadi rival utama Golongan Karya. Pemerintah telah memutuskan bahwa birokrasi harus menjadi bagian Golkar, mereka yang bukan dari golongan itu akan disingkirkan.

Setelah istikharoh dan berkonsultasi dengan para gurunya Bapak akhirnya memutuskan menampak jenjang karier di birokrasi pemerintahan. Yang penting, menurut Bapak, semangat dan kegiatan dakwah harus tetap hidup meski melalui wadah yang berbeda. Pilihan yang tidak ringan, menimbang situasi social kala itu, tetapi pada akhirnya terbukti benar. Tidak sedikit ulama dan tokoh Islam yang mengambil sikap seperti Bapak yang kemudian dikucilkan dari komunitasnya karena dituduh opportunis. Bapak memasuki karier baru di peradilan agama (PA) dengan spirit dakwah semacam itu. Sempat beberapa tahun di peradilan agama Demak, lalu berlanjut di pengadilan agama Semarang. Dimana Bapak mendapatkan amanah sebagai ketua pengadilan agama dalam waktu yang cukup panjang, sekitar tujuh tahan (1978-1985). Pembangunan gedung PA Semarang pada 1984 menjadi lebih bagus dan wibawa menjadi salah satu  keberhasilan Bapak.

Sebagai aktifis dakwah, Bapak tidak berpuas hanya disitu. Bapak terus mengembangkan kiprahnya dalam organisasi dan perkumpulan Islam lainnya. Bapak dikenal luas dilingkungan ulama semarang dan Jawa Tengah sebagian justru karena kiprahnya diluar jabatannya sebagai Ketua PA Semarang. Aktifitas bapak tidak dapat dipisahkan dari baitullah, masjid. Selama di semarang Bapak berpesran aktif sebagai salah ketua pengurus Masjid Baiturrahman, salah satu masjid terbesar di semarang pada waktu itu. Dalam kiprah ke ulamaan Bapak mendapat kepercayaan sebagai Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa tengah hingga akhir 1980-an. Di Golkar, bapak aktif di organisasi keislaman Gabungan usaha Pembaharuan Pendidikan islam (GUPPI) dan Majelis Dakwah Islamiyah (MDI). Ketokohan bapak di dua lembaga itu telah membawa manfaat yang besar bagi pengembangan islam dan masyarakat. Melalui GUPPI inilah, serta kedekatan bapak dengan tokoh-tokoh nasional,  yayasan undaris kemudian berkembang pesat. Hingga tidak tercatat banyaknya pejabat pusat, termasuk para menteri yang berkunjung ke undaris ambarawa dan memberikan perhatian penuh, termasuk financial. Di MDI bapak berkiprah bersama seniornya dan yang sekaligus dianggap gurunya, KH. Muhammad Shofwam. Ketika Kiai Shofwam wafat bapak dipercaya menggantikan beliau sebagai ketua MDI Jawa tengah. Posisi inilah yang kemudian mengantarkan beliau menjadi anggota DPR RI antar waktu menggantikan Kiai Shofwam yang wafat pada 1985. Di Senayan, banyak tugas besar telah menunggu.

Bersambung….






Bapak dalam Reportase Wartawan Majalah Hidayah

MASJID AL-MUJAHIDIN, "Saksi Sejarah Perjuangan Umat Islam Ambarawa"Jika Anda menuju Jetis dari arah pasar Ambarawa, Anda dipastikan akan melihat sebuah masjid kokoh dan megah menghadap ke timur di samping kiri jalan. Keberadaan masjid ini menjadi sesuatu yang sangat berharga bagi umat Islam Ambarawa. Pasalnya, di sekitarnya terdapat banyak gereja dan lembaga pendidikan Kristiani. Selain itu, tempat dan seni arsitekturnya yang bernilai tinggi membuat masjid ini menjadi tempat yang “sejuk dan nyaman” untuk beribadah dan beristirahat.
Namanya Masjid al-Mujahidin. Dari segi leksikal (makna bahasa), al-Mujahidin berarti orang-orang yang sedang berjihad di jalan Allah. Nama ini tentu tidak begitu saja melekat pada masjid ini. Ada kesan “historis” di dalamnya. Ia menjadi saksi sejarah bagaimana umat Islam Ambarawa berjuang dengan gigih dan beraninya melawan penjajahan Belanda. 
Masjid ini berdiri sekitar tahun 1700 masehi, 308 tahun yang lalu. Berarti usianya sudah 3 abad lebih. Masjid ini berdiri sebelum terjadi peperangan Pangeran Diponegoro yang sangat melegenda itu. Ia didirikan oleh KH. Tholahudin, seorang keturunan kerajaan Demak yang bernama Raden Trenggono.
“Menurut KH. Abdul Haq Watu Tongol dan KH. Muhaimin, KH. Tholahudin yang asli Demak itu merantau ke Ambarawa dalam rangka berdakwah. Tetapi, kondisi saat itu yang mencekam memaksanya untuk mengambil senjata melawan penjajah Belanda. Ia pun mendirikan masjid ini tidak saja sebagai sarana dakwahnya tapi juga sebagai basis perjuangan umat Islam kala itu,” ujar H. Muhammad Saleh, salah seorang pengurus Masjid al-Mujahidin.

Masjid ini juga menjadi saksi sejarah bagaimana seorang cendekiawan Muslim Indonesia terkenal dan mantan Menteri Agama era Presiden Soeharto, KH. Dr. Munawir Sadjali, MA., ikut berjuang melawan penjajah Belanda. Konon, saat penjajah Belanda mengerahkan pasukannya ke Ambarawa untuk memporakporandakan negeri ini, Munawir muda ikut menenteng senjata melawan mereka. Munawir memulakan perjuangannya dari masjid ini.


Masjid ini juga menjadi saksi sejarah bagaimana seorang cendekiawan Muslim Indonesia terkenal dan mantan Menteri Agama era Presiden Soeharto, KH. Dr. Munawir Sadjali, MA., ikut berjuang melawan penjajah Belanda. Konon, saat penjajah Belanda mengerahkan pasukannya ke Ambarawa untuk memporakporandakan negeri ini, Munawir muda ikut menenteng senjata melawan mereka. Munawir memulakan perjuangannya dari masjid ini.
“Bahkan, saat pesawat Belanda membombardir Ambarawa dari udara, Munawir sembunyi di bawah pohon sawo yang ada di belakang masjid dan beliau selamat. Hingga kini pohon sawo itu masih ada,”ujar H. Muhammad Soleh.

Konon, saat pesawat Belanda itu menembaki desa Ambarawa dari udara Masjid al-Mujahidin ini tidak terlihat dari atas. Dengan kekuasaan Allah, penjajah Belanda itu tidak sempat memporakporandakan masjid ini karena tak terpantau dari udara. Sehingga bom-bom udara pun hanya berjatuhan di sekitar masjid. Dan orang-orang yang bersembunyi di masjid pun selamat, termasuk Munawir Sadjali yang bersembunyi di bawah pohon sawo.

Sejak itulah, banyak umat Islam Ambarawa meyakini bahwa Masjid al-Mujahidin memiliki “daya magis” sendiri. Bagaimana tidak? Saat bangunan-bangunan di sekitarnya porak-poranda diluluhlantakan oleh pesawat udara penjajah Belanda, Masjid al-Mujahidin justru lepas dari pantauan, sehingga sedikit pun tak tergores oleh dahsyatnya bom-bom itu.

Jadi, Masjid al-Mujahidin benar-benar memiliki “nilai historis” yang sangat kuat bagi umat Islam Ambarawa. Ada beberapa hal untuk mendukung anggapan seperti ini. Pertama, ia menjadi tempat berdakwah dan berjuang umat Islam Ambarawa dan sekitarnya dalam mengusir penjajah Belanda seperti yang telah diungkapkan di atas. Kedua, ia menjadi satu-satunya masjid tertua di Ambawara –kalau bisa dikatakan sebagai salah satu masjid tertua di Semarang.
Dengan dua alasan di atas, Masjid al-Mujahidin pantas untuk selalu dilestarikan. Tidak saja bangunannya yang harus selalu dijaga, tapi juga perannya sebagai lokus spiritual: tempat beribadah, ngaji, dan kegiatan keagamaan lainnya.

Namun, dalam perkembangannya, Masjid al-Mujahidin tak kuat melawan waktu. Waktu terus berjalan seperti tidak perduli, sementara bangunan masjid sudah terlihat kian renta. Di sana-sini, bangunan masjid baik tiang, dinding atau atapnya sudah mulai rapuh. Jika tidak diperbaiki bisa berbahaya buat jamaah di dalamnya. Karena itu, setelah renovasi terakhir pada tahun 1974, masjid ini pun dipugar total pada tahun 1991.

Dengan perombakan total itu otomatis kesan sejarah dari masjid ini ada yang hilang. Tetapi pilihan pahit ini harus diambil demi tujuan yang jauh lebih baik. Sebab, bangunan masjid itu sudah tidak layak lagi dipertahankan. Memaksakan diri untuk dipertahankan, sama saja memberikan “ruang berbahaya” bagi jamaah yang ada di dalamnya.

Maka diangkatlah KH. Drs. Harun Rasyidi sebagai ketua panitia pembangunan masjid.

Konon, saat pesawat Belanda itu menembaki desa Ambarawa dari udara Masjid al-Mujahidin ini tidak terlihat dari atas. Dengan kekuasaan Allah, penjajah Belanda itu tidak sempat memporakporandakan masjid ini karena tak terpantau dari udara. Sehingga bom-bom udara pun hanya berjatuhan di sekitar masjid. Dan orang-orang yang bersembunyi di masjid pun selamat, termasuk Munawir Sadjali yang bersembunyi di bawah pohon sawo.
Sejak itulah, banyak umat Islam Ambarawa meyakini bahwa Masjid al-Mujahidin memiliki “daya magis” sendiri. Bagaimana tidak? Saat bangunan-bangunan di sekitarnya porak-poranda diluluhlantakan oleh pesawat udara penjajah Belanda, Masjid al-Mujahidin justru lepas dari pantauan, sehingga sedikit pun tak tergores oleh dahsyatnya bom-bom itu.
Jadi, Masjid al-Mujahidin benar-benar memiliki “nilai historis” yang sangat kuat bagi umat Islam Ambarawa. Ada beberapa hal untuk mendukung anggapan seperti ini. Pertama, ia menjadi tempat berdakwah dan berjuang umat Islam Ambarawa dan sekitarnya dalam mengusir penjajah Belanda seperti yang telah diungkapkan di atas. Kedua, ia menjadi satu-satunya masjid tertua di Ambawara –kalau bisa dikatakan sebagai salah satu masjid tertua di Semarang. Dengan dua alasan di atas, Masjid al-Mujahidin pantas untuk selalu dilestarikan. Tidak saja bangunannya yang harus selalu dijaga, tapi juga perannya sebagai lokus spiritual: tempat beribadah, ngaji, dan kegiatan keagamaan lainnya.
Namun, dalam perkembangannya, Masjid al-Mujahidin tak kuat melawan waktu. Waktu terus berjalan seperti tidak perduli, sementara bangunan masjid sudah terlihat kian renta. Di sana-sini, bangunan masjid baik tiang, dinding atau atapnya sudah mulai rapuh. Jika tidak diperbaiki bisa berbahaya buat jamaah di dalamnya. Karena itu, setelah renovasi terakhir pada tahun 1974, masjid ini pun dipugar total pada tahun 1991.
Dengan perombakan total itu otomatis kesan sejarah dari masjid ini ada yang hilang. Tetapi pilihan pahit ini harus diambil demi tujuan yang jauh lebih baik. Sebab, bangunan masjid itu sudah tidak layak lagi dipertahankan. Memaksakan diri untuk dipertahankan, sama saja memberikan “ruang berbahaya” bagi jamaah yang ada di dalamnya.
Maka diangkatlah KH. Drs. Harun Rasyidi sebagai ketua panitia pembangunan masjid. “Beliau memberikan dorongan kepada anak muda seperti saya untuk memugar masjid ini dan membangunnya kembali dengan yang lebih kokoh dan megah. Mumpung masih hidup dan diberi rejeki. Buat anak cucu kita,” ujar H. Muhammad Soleh.

Posisi strategis yang dimiliki oleh KH. Rasyidin kala itu membuatnya sangat dekat dengan Menteri Agama KH. Munawir Sadjali. Beliau pun lalu menyumbang 25 juta untuk kelancaran pembangunan masjid. Saat pergantian kabinet dan menteri agama diganti oleh Dr. H. Tarmidzi Taher, ia pun ikut menyumbang masjid ini seperti pendahulunya yaitu sebesar 100 juta.

Posisi strategis yang dimiliki oleh KH. Rasyidin kala itu membuatnya sangat dekat dengan Menteri Agama KH. Munawir Sadjali. Beliau pun lalu menyumbang 25 juta untuk kelancaran pembangunan masjid. Saat pergantian kabinet dan menteri agama diganti oleh Dr. H. Tarmidzi Taher, ia pun ikut menyumbang masjid ini seperti pendahulunya yaitu sebesar 100 juta. “Tetapi, sebagian besar dana pembangunan masjid dari swadaya masyarakat,” ujar H. Muhammad Soleh.

Setelah enam tahun berjalan, Masjid Al-Mujahidin yang megah dan kokoh pun selesai dibangun tahun 1997 dengan menghabiskan biaya sekitar 1 milyar min 300 ribu rupiah (Rp. 999.700.000,-). Lima tahun kemudian (tahun 2008), menyusul menara masjid setinggi 41 meter selesai dibangun.

Arsitektur masjid mengikuti pola campuran. Serambinya mengikuti tradisi Jawa berbentuk empat persegi panjang dengan beberapa tiang penyanggah sedang kubahnya berpolakan Madinah.

Setelah enam tahun berjalan, Masjid Al-Mujahidin yang megah dan kokoh pun selesai dibangun tahun 1997 dengan menghabiskan biaya sekitar 1 milyar min 300 ribu rupiah (Rp. 999.700.000,-). Lima tahun kemudian (tahun 2008), menyusul menara masjid setinggi 41 meter selesai dibangun.
Arsitektur masjid mengikuti pola campuran. Serambinya mengikuti tradisi Jawa berbentuk empat persegi panjang dengan beberapa tiang penyanggah sedang kubahnya berpolakan Madinah. “Yang jelas, tenaga kerja dan materi bangunannya dari Magelang semua,” ujar H. Muhammad Soleh.

Masjid yang semuanya terbuat dari kayu jati ini terdiri dari empat tiang utama (dari kayu jati) yang bentuknya lebih besar dibanding 14 tiang lainnya yang terbuat dari keramik warna putih. Masjid ini bertingkat dan masing-masing tingkat ada mimbarnya, di mana samping kanan dan kiri mimbar ada jam menempel di dinding.

Delapan kipas angin ikut mewarnai keindahan bagian dalam masjid, sehingga jamaah pun tidak kegerahan saat berada di dalam untuk shalat atau beristirahat. Untuk menuju tingkat atas, jamaah bisa menggunakan dua tangga yang mengapit kanan kiri masjid.

Jamaah juga dimudahkan dengan tempat air wudhu yang nyaman. Sekitar 12 kran air wudhu terpasang dan 5 tempat buang hajat kecil serta 3 toilet. Unsur tradisional dari masjid ini masih ditonjolkan dengan adanya kentongan dan bedug yang besar di dekat tempat air wudhu. Sayangnya, pada bagian kubah masjid yang indah ini tak terukir tulisan kaligrafi seperti yang biasa kita lihat pada masjid-masjid modern. Meski demikian, hal itu tidak mengurangi sedikit pun kemegahan dan kekokohan masjid ini.

Masjid yang beralamatkan di Jl. Dr. Cipto Palagan Ambarawa ini memiliki kegiatan rutin setiap minggunya. Setiap Ahad pagi jam 05.30-,06.30 selalu diadakan kuliah. Setelah itu dilanjutkan dengan periksa kesehatan/UKM pada jam 06.30-07.30. Sedang Ahad sore (jam 15.30-17.00) diselenggarakan seni baca al-Qur’an.

Pada hari Senin (jam 15.00-17.00) diadakan pengajian tafsir al-Qur’an seperti Tafsir al-Maraghi dan Fathul Mu’in. Lalu setiap Ahad wage (jam 09.00-12.00) diadakan tahtimul qur’an (khatamal qur’an), mujahadah qubro dan pengajian.

Masjid yang semuanya terbuat dari kayu jati ini terdiri dari empat tiang utama (dari kayu jati) yang bentuknya lebih besar dibanding 14 tiang lainnya yang terbuat dari keramik warna putih. Masjid ini bertingkat dan masing-masing tingkat ada mimbarnya, di mana samping kanan dan kiri mimbar ada jam menempel di dinding.
Delapan kipas angin ikut mewarnai keindahan bagian dalam masjid, sehingga jamaah pun tidak kegerahan saat berada di dalam untuk shalat atau beristirahat. Untuk menuju tingkat atas, jamaah bisa menggunakan dua tangga yang mengapit kanan kiri masjid.
Jamaah juga dimudahkan dengan tempat air wudhu yang nyaman. Sekitar 12 kran air wudhu terpasang dan 5 tempat buang hajat kecil serta 3 toilet. Unsur tradisional dari masjid ini masih ditonjolkan dengan adanya kentongan dan bedug yang besar di dekat tempat air wudhu. Sayangnya, pada bagian kubah masjid yang indah ini tak terukir tulisan kaligrafi seperti yang biasa kita lihat pada masjid-masjid modern. Meski demikian, hal itu tidak mengurangi sedikit pun kemegahan dan kekokohan masjid ini.
Masjid yang beralamatkan di Jl. Dr. Cipto Palagan Ambarawa ini memiliki kegiatan rutin setiap minggunya. Setiap Ahad pagi jam 05.30-,06.30 selalu diadakan kuliah. Setelah itu dilanjutkan dengan periksa kesehatan/UKM pada jam 06.30-07.30. Sedang Ahad sore (jam 15.30-17.00) diselenggarakan seni baca al-Qur’an.
Pada hari Senin (jam 15.00-17.00) diadakan pengajian tafsir al-Qur’an seperti Tafsir al-Maraghi dan Fathul Mu’in. Lalu setiap Ahad wage (jam 09.00-12.00) diadakan tahtimul qur’an (khatamal qur’an), mujahadah qubro dan pengajian. 
Selain kegiatan-kegiatan spiritual, Masjid al-Mujahidin juga berkecimpung pada kegiatan sosial dengan mendirikan GOTA (Gerakan Oraang Tua Asuh). Selama ini gerakan ini masih berjalan dengan cukup baik.
Demikian Masjid Al-Mujahidin dengan segala peran spiritual dan sosialnya bagi umat Islam Ambarawa. Eksistensinya sebagai lokus perjuangan umat Islam Ambarawa pada masa penjajahan Belanda tak diragukan lagi. Semoga 100 tahun ke depan, seperti keinginan KH. Rasyidi saat masjid ini pertama kali dipugar total, masjid ini tetap berdiri kokoh –bahkan, ribuan tahun ke depan. Amien! (Eep K)Diposkan oleh Eep Khunaefi di 12.46 Description: http://img1.blogblog.com/img/icon18_email.gif


0 komentar:

Posting Komentar