BIOGRAFI
H HARUN RASIYDI AMBARAWA
(dituliskan versi bebas untuk ditambahi oleh adik-adik
dan
rekan-rekan Bapak serta keluarga lainnya)
I. LATAR
BELAKANG KELUARGA
HARUN
PERMATA DARI MLOBO
Harun kecil dilahirkan sebagai putra
pertama di Desa Kupang Dalangan Kecamatan Ambarawa tanggal 8 Juli 1938, oleh pasangan Umar Khotib dan Asmanah. Rumah kelahiran
Ambarawa merupakan rumah KH Badaruddin, kakek Harun dari Ibunya yang merupakan
rumah tinggal berlantai 2 dimana lantai atas dipergunakan untuk pengajian dan
menempa ilmu dan kekuatan para muridnya.
Kyai Umar Khotib adalah ulama Mlobo
sebuah desa kecil di Kecamatan Secang di kaki pegunungan Temanggung dan menikah
dengan Asmanah putri ke4 dari KH Badaruddin Ambarawa.
KH. Badaruddin tokoh ulama ambarawa
semasa peperangan banyak membantu pejuang dengan do’a dan ilmu kanuragan sesuai
dengan masanya adalah putra Mbah Soca, tokoh yang mengenalkan agama Islam di
Ambarawa dan sekitarnya jauh sebelum masa kemerdekaan. (informasi dari tokoh sepuh Sumowono saat Harun remaja tahun 1960 an
dakwah di sumowono dan ketemu seorang tua yang mengenali Harun sebagai cicit
dari Mbah Soca). Semasa kecil Harun diasuh di Ambarawa sampai usia sekitar
1 tahun dan kemudian pindah ke Mlobo.
MASA
PENDIDIKAN
Pendidikan
dasar
Harun sekolah SD Negeri Mbumen (desa
kebumen) kec. Secang 6 kilo dari Mlobo. Tiap hari naik turun bukit bersama
beberapa teman menempuh pendidikan dasar dengan semangat. Sampai suatu ketika
terjadi kebakaran di SD tersebut dan akhirnya Harun pindah sekolah yang
terkemuka saat itu di SD Negeri Panjang Ambarawa (dekat Monumen Palagan Ambarawa).
Tingal di Rumah KH Badaruddin dengan
lingkungan agamis dan suasana perjuangan pertempuran Palagan Ambarawa dan
sangat disayang olehya dididik karakter dan agamanya langsung oleh KH Badaruddin.
Melihat beliau sehari hari membantu
masyarakat dan pejuang Ambarawa dan mengajarkan agama pada banyak orang sangat mempengaruhi kehidupan Harun dikemudian
hari. Meskipun terpisah dari ayah ibunya, Haruni sangat dikasihi olehnya menjadikan Harun pribadi yang kuat dan
mandiri.
Kondisi dan suasana Ambarawa, yang
dinamis dari masa perjuangan sampai masa setelahnya, pengembangan kepribadian
dan langkah langkah kejuangannya banyak lahir dari semangat KH Badaruddin.
Sekolah di SD Negeri dan mengaji dibimbing sang kakek langsung hingga kini
masih menghujam dengan kalimat “Amalan
yang baik adalah tiap hari membaca Al Qur’an akan menentramkan dan memuliakan
dirimu”.
Pendidikan
Menengah
Selepas lulus dari SDN Panjang, Harun melanjutkan ke Salatiga,
sekolah yang sangat terkenal dikalangan muslim saat itu, PGA Salatiga. (berada
di jalan Osa Maliki berjarak sekitar 300
meter dari Masjd Agung Kauman Salatiga).
Disekolah tersebut Harun menyelesaikan
selama 3 tahun, Pelajaran agama dari KH Badaruddin membantu lancarnya sekolah
di PGA. Beberapa teman seperi Almarhum Musri ( Guru MTSN Salatiga tahun 1982)
menyampaikan betapa cerdas dan bersahajanya Harun sewaktu di PGA.
Selama sekolah di Salatiga Harun tinggal
Kos di daerah Kauman dan jika libur ke Ambarawa dan sesekali ke desa Mbener,
Tengaran. Di Mbener Harun berada di
rumah Ibu Srimanah kakak dari Asmanah Ibundanya. Srimanah menikah degan
KH Asyhuri yang merupakan putra KH Jalaluddin Suyuthi tokoh ulama Mbener.
Pendidikan
Mengengah Lanjutan
Lulus dari PGA Salatiga, Harun
berkeinginan melanjutkan ke IAIN, dan untuk meraih cita cita itu, Harun pindah
ke Yogyakarta menempuh pendidikan di SPIAIN (sekolah Persiapan IAIN) Yogyakarta
beralamatkan di Sekip sekitar kampus UGM Yogyakarta. Selama di yogya Harun
tinggal bersama pamannya H Sofyan Badar di Jl. Taman sari No. 40 sekitar 2 km dari kraton Ngayogyokarto Hadiningrat. Pendalaman
agama dilakukan dari sekolahan dan kyai setempat dan menjadi anggota organisasi
IPPNU sehingga mengikuti beberapa pelatihan keorganisasian dan dakwah.
Sambil sekolah dan tinggal di rumah Pakde-nya,
Harun mengajar ngaji prutra putri Pakde Sofyan, sesekali mengantar sekolah
dengan memboncengkan sepeda “adik adiknya” itu
Pendidikan
Tinggi
Pendidikan tinggi diperoleh di IAIN
Sunan Kalijaga Yogyakarta, karena keuletan dan kepandaiannhya Harun tidak
kesulitan masuk ke IAIN, saat itu IAIN Yogyakarta menjadi paramater kemajuan pemikiran
Islam Indonesia dengan adanya Tokoh sekaliber Prof TM Hasbi Ashidiqi dan Prof
Musaddad.
Selain menjadi mahasiswa lalu membantu
mengasuh adik adik taman sari, Harun banyak terlibat dalam Organisasi. Di IPPNU
menjadi pengurus, dan di PMII menjadi penggerak dalam melawan rezim Nasakom dan
PKI.
Gaya pidato Harun, yang indah dan
menyentuh dengan intonasi yang khas merupakan hasil dari pelatihan dari tokoh
tokoh PMII juga memiliki pengalamannya menggalang kekuatan melawan gerakan PKI.
Keterlibatan Harun dalam organisasi sampai beresiko tinggi, dicari di Yogya dan
Salatiga oleh musuh negara. Sampai saat kelahiran putranya yang pertama tanggal
4 Me 1966. Istrinya dibawa menaiki andong dari desa Bener ke Rumah Sakit DKT
Salatiga tanpa didampingi suaminya.
Harun sangat terkesan dengan Yogyakarta
dan Masjid Suhada, yang dibangun tahun
1960 an, sering juga menimba ilmu dan
pengalaman di masjid tersebut.
Saat menjadi mahasiswa ini Harun rajin
berda’wah dibanyak tempat, di desa desa
ataupun dimana pengajian KH Badaruddin mengajar Harun kadang diminta menjadi
pengantinya. Kitab yang sering menjadi pegangannya adalah “Riyaadushalihein
Karya Iman Nawawi Al Makki” dan Kitab “Tafsir Ibnu Katsir” dan tentu dalam
dakwah disesuaikan dengan konteks masalahnya.
II. KIPRAH
KEJUANGAN DAN PEKERJAANNYA
Masa
kerja Pertama di Pengadilan Agama Kota Semarang
Lulus dari IAIN Yogyakarta tahun 1965,
nama Harun yang dianggap terlalu pendek dan agar ada pembeda dengan yang lain mulai
ditambahkan Rasyidi. Sebagai mahasiswa ikatan dinas Deprtemen Agama, dn lulusan
IAIN fakultas syariah.. Harun mendapatkan tugas pertama di kantor Pengadilan
Agama Semarang.
Lokasi kantor tersebut ada di samping
Masjid Agung Kauman Semarang, tidak jauh dari pasar Johar. Pekerjaan sebagai
hakim muda, dilaksanakan dengan tekun dan Harun tetap tinggal di Ambawa.
Bersama Istriya yang Bernama Siti Anisun (sepupu Harun putri dari Ibu Srimanah)
dan putra pertama M Ahsin Sidqi yang lahir 4 Mei 1966.
Masih terbayang jika riuh namun disertai
ketegangan melakukan Hisab Rukyat saat menjelang Puasa dan lebaran, bagaimana
Harun mempin tim Rukyatul Hilal dari menara Mercusuar Tanjung Emas setelah
menyaksikan atau tidak bulan sabit lalu segera melaporkan ke Jakarta. Suasana
Dug-Der diseputar kantor Masjid kauman sangat menarik dan ramai dikunjungi
orang. Istri dan anak dibawa serta untuk melihat suasana khas menjelang lebaran
di kota semarang itu.
Semasa Menjadi hakim di semarang ini
Perjuangan Dakwah Harun terus berjalan dengan beberapa hasil seperti pendirian
SPIAIN Ambarawa, Maderasah Diniyah Sabilul Huda Krangan dan Balai Islam
Ambarawa.
Ke
Kota Wali Demak sebagai Hakim PA Demak
Sekitar 3 tahun di Semarang dan
meninggalkan kenangan sangat bermakna, Harun pindah sebagai hakim di Pengadilan
Agama Demak. Lokasi kantor ada disamping Masjid Agung Demak, yang didirikan
Para Wali bererapa abad silam menambah kesan bagi dirinya dan keluarga..
Harun tinggal kost dirumah penduduk
pengusrus Masjid Agung Demak, berjarak satu kilo dari lokasi kantor. Selama
bekerja sebagai hakim Harun masih melakukan aktivitas dakwah dan organisasi
baik di Jawa Tengah maupun di Ambarawa.
Menjadi
Ketua Pengadilan Agama Semarang
Kembali bekerja sebagai hakim di
Semarang dan menjadi ketua Pengadilan agama Semarang tentu bertambah juga
tanggung jawabnya. Untuk pertama kalinya Kantor pengadilan agama semarang
menempati Kantor baru di Jl Ronggo Lawe, daerah Karang Ayu Semarang. Kembali
dan memimpin bersama teman teman lamanya dapat mengembangan hubungan antar pegawai
dalam kegiatan kantor sangat terasa. Sampai saat ini masih terekam dalam
keluarga Harun, bahaigaman susana pekerjaan dan hubungan antar pegawai yang
sangat kondufif.
Memiliki keluarga yang harmonis dan
mendukung karir dan perjuangan ayahnya, tentu Harun sangat menyenangi pekerjaan
ini. Bukan hanya memimpin sidang perceraian semata, Harun lebh senang membantu
keluarga keluarga yang mengalami massalah dalam perkawinan dan terhindar dari
perpecahan dan keluarga lainnya menjadi keseharian. Baik dikantor kadang
dirumah.
Perjuangan dakwah Harun, selama di PA
Semarang lebih intens lagi, menjadi Panitia MTQ nasional ke 15 di Semarang dan
sukses luar biasa. Hampir seminggu sekali mengadakan rapat di Masjid Baitul
Rahman simpang lima Semarang sampai menjadi salah satu ketua MUI Jateng, Ketua
Masjis Dakwah Islamiyah (MDI) Jawa Tengah untuk memajukan ummat dan Agama Islam
di jawa Tengah.
Menjadi khotib Iedul Fitri di simpang
lima dihadapan Gubernur jawa Tengah yang sangat legendaris H Supardjo Rustam
adalah salah satu kegiatan dakwah yang sangat dikenang kami sekeluarga. Kadang
harus ke Wonosobo, Surakarta dan lainyaa untuk memberikan pengajian akbar
secara tulus dilaksanakannya.
Karena kesalehan dan keaktifannya dalam
berdakwah, masyarakat menyebutnya sebagai KH Kharun Rasyidi, dengan jadwal
pengajian yang sangat padat, dan tetamu yang datang dan pergi, serta rapat
rapat yayasan yang silih berganti adalah mernjadi kegiatan dan kemafhuman
keluarga. Istrinya tercinta Siti Anisun senantiasa mendukung dan mendampinginya.
Pada masa ini Harun menunaikan Ibdadah
Haji ke Makkah untuk pertama kalinya sebagai diniayai pemerintak utusan MDI,
semua murid, sahabat dan keluarga mengantarkan dari Masjid Mujahidin Ambarawa.
Masih terbayang Mbah Kyi Cholil sebagai sesepuh Ulama di Masjid Mujadidin
ditandu karena sakit melepas kepergian Harun dengan penuh haru.
Semasa mejadi Ketua Pengadilan Agama
Semaran H Harun Rasydi melakukan berbagai kegiatan penting, antara lain :
1. Menjadi
Ketua panitia pembangunan Masjid Mujahidin Ambarawa
2. Mendirikan
Yayasan Islamic Centre Sudirman Ambawawa
3. Mendirikan
UNDARIS Ungaran
4. Membuat
gerakan Pembangunan Masjid di daerah segi tiga Salatiga Ambarawa Magelang
5. Membantu
pembangunan beberapa Masjid Amal Bhakti Muslim Pancasila di kab Semarang
6. Salah
satu Ketua MUI jateng
7. Ketua
MDI Jateng
8. Ketua
BP3 SMA Negeri Ambarawa.
Pengajian dan dakwah yang dikelola H
Harun Rasyidi:
1. Pengajian
Rutin Rabu Malam di Balai Islam Ambarawa
2. Kuliah
subuh Ahad Pagi di Masjid Mujahidin Ambarawa
3. Pengajian
lapanan Ahad Legi Desa Mlobo Secang kab Magelang.
4. Kuliah
Subuh selama bulan Ramadhan di Masjid Mujahidin Ambarawa.
5. Berbagai
undangan baik di masyarakatm sekolahan atau institusi.
Menjadi
Anggota DPR RI
Aktifitas kerja dan Dakwah H Harun di
MUI bersama KH Sofwan yang dikenalnya sejak di PA Semarang semasa berkantor di
masjid Agung Kauman Semarang, teruslah terjalin. Kepada keluarga Harun sering bercerita bagaimana KH Sofwan
memeberikan banyak hal pengetahuan dan pengalaman perjuangan dan dakwah
padanya.
Aktifitasnya juga di MDI (Majlis Dakwah
Islamiyyah) bersama KH Sofwan dan GUPPI (gabungan Usaha Peningkatan Pendidikan
Islam) juga sangat intens dengan bantuan beliau akhirnya berhasil mendirikan
Yayasan Islamic Center Sudirman (bersama KH Mansur, KH Amin Hambali, Drs H
Subiyono Aptk, H Amin Samsuri BA),
Dikarenakan orang yang sangat
dihormatinya yaitu KH Sofwan wafat karena sakit dan Harun diminta menggantikan sebagai Anggota
antar waktu DPR RI sebagai Fraksi Golongan
Karya.
Karir di Peradilan Agama sementara berhenti,
dan berganti menjadi karir Politik. Namun perhatian pada kejuangan Peradilan
Agama, Pendidikan dan syiar agama Islam akan terus dilaksanakan dan mewarnai sebagian besar kehidupannya.
Undang undang peradilan agama merupakan
hasil perjuangan yang mengangkat harkat hukum Agama islam dalam sistem
perundangan di Republik Indonesia.
Pada periode pemilihan berikutnya. Harun
menjadi anggota DPR RI penuh, dengan daerah pemilihan Kabupaten Demak dan
sekitarnya. Setiap kesempatan reses. Harun mengunjungi daerah dan melakukan
kegiatan dakwah dan pembangunan di daerah asalnya.
Setiap hari Sabtu dan Minggu Harun
pulang ke Ambarawa untuk mengunjungi keluarga dan melakukan rapat rapat yayasan
dan menerima tamunya. Dan disempatkan mengunjungi Ibunya di Desa Mlobo serta
mertuanya di Tlogo Salatiga untuk mengobati rindu dan mohon do’a mereka.
Pada masa di DPR Harun ibadah haji 2 kali, dan beberapak kali
umroh sekali berhaji sebagai peinjau dan tamu negara Arab Saudi sehingga
menempati Hotel “istana” kerajaan Saudi Makkah yang jika sholat dikamar bisa
melihat Ka’bah yang agung dibawahnya dan selanjutnya bersama Istrinya dengan biaya yang
dikumpulkannya.
Mejadi
Hakim Tinggi Agama Yogyakarta
Tugas di DPR Ri telah selesai, dan kini
dengan Undang Undang baru Peradilan Agama yang telah diperjuangkannya di DPR RI
, peradilan agama dan hakim hakimnya telah setara dengan peradilan umum dan
hakim umumnya dan serta bernaung dibawah Mahkamah Agung. Harun dipercaya menjadi Wakil Ketua PTA Yogyakarta.
Sebagai Ketua PTA Yogtyakarta adalah
Bapak H Drs Thoyyib tokoh bersahaja yang sejak lama sangat dikagumi oleh Harun.
Ketika menjadi Hakim Tinggi Harun
tinggal di yogyakarta bersama Istri dan 2 Anaknya yaitu Nining F Hanum (mhsw
UGM Akuntasni) dan Hani Lukman Hakim
(Mhsw Ekonomi PT. Swasta).
Suasana yang amat sangat didamba,
seperti menjadi anugrah terindah bagi klelauarga, bekerja di tempat bersejarah
dimasa dulu sekolah lanjutan dan Mahasiswa. Lebih bisa sering mengunjungi Pakde
Sofyan dan keluarga dan bertemu dengan saudara saudaranya.
Saat mejadi Hakim Tinggi tak pernah meninggalkan lingukungan pejuangan
di Ambarawa dan sekitarnya, mengarahkan yayasan, memakmurkan Masjid Mujahidin.
Dan juga lebih mempersiapkan kader kader lebih muda di Ambarawa sudah bisa
melanjutkan perjuangannya.
Hijhrah ke Medan dan menjadi ketua PengadilanTinggi Agama
Medan
Hanya 2 tahun di Yogya, H Harun dalam
usia 63 tahun pindah ke PTA Medan menjadi Ketua. Disana bersama Istri Hj siti
Anisun dengan senang mendampinginya. Putra putrinya dengan 5 orang cucu saat
itu menganggap ini adalah anugrah Tuhan untuk seperti menjalani masa bulan madu
yang kata H Harun pada putra putrinya belum pernah dilakukan karena menikah
pada masa genting G30S PKI di mana H Harun menjadi aktifis PMII yang sedang
dicari cari musuh negara.
Di Medan, sosok H Arso (wakil PTA Medan)
sangat menyambutnya sebagai layaknya keluarga. Menjalankan tugas dan pekerjaan,
perjuangan dan romantika kehidupan sepasang Merpati yang tidak muda lagi H
Harun- Hj Siti Anisun, sungguh menjadi pengakhiran sebuah “Tugas pengabdian profesi pada negara yang membanggakan dan menyenangkan”.
Bertepatan usia 65 tahun, H. Harun, Purna
Bhakti dari Pegawai Negeri, dan posisinya sebagai ketua hakim tinggi Agama
sebuah salah satu prestasi puncak profesi seorang hakim. Seluruh putra putri
hadir dan mendampingi di Medan. Berbagai acara perpisahan diadakan dan
puncaknya adalah tangisan kehilangan dan kesan mendalam dari segenap keluarga
PTA Medan pada H Harun.
Kambali
ke Ambarawa
..............
III. KELUARGA
DAN NASEHAT:
Putra
Putri:
Dalam pernikahannya H Harun dan Hj Siti
Anisun diberikan anugrah 6 putra putri:
1. Muhammad
Ahsin Sidqi lahir di Salatiga 4 Mei
1966
2. Atik
Rochmiati
3. Fuad
Kamaludiin
4. Zaki
Mubarok
5. Nining
faizah hanum
6. Hani
Lukman Hakim
Petuah dan nasehat dari orang tua ke
pada putra putri antara lain :
1. Dimanapun
tinggal dan bekerja hendaknya Madjid dimakmurkan
2. Membaca
Alqur,an sebagai Dzikir harian
3. Menghormati
orang tua dan teman teman atau tamunya
4. Membantu
dan memperhatikan saudara
5. Mau
berdakwah, berkhutbah
6. Memperhatikan
pendidikan anak anaknya, membantu saudara dan tetangga
7. Menjaga
akhlaqul karimah khususnya pada bapak dan Ibu
8. Menjaga
silaturahmi dengan para guru
Ditulis
di Apartemen Kalibata City Tower K 16 AN
M.
Ahsin Sidqi , Jakarta 18 Agustus 2013
jam 23.46